"hak muslim atas muslim lainnya ada 6 macam, yaitu apabila engkau berjumpa dengannya, maka berilah salam kepadanya. Apabila dia mengundang-mu, maka penuhilah undangannya. Apabila ia meminta NASEHAT , MAKA BERILAH NASIHAT KEPADANYA. Apabila ia bersin dan bertahmid, maka jawablah tahmidnya. Apabil ia sakit maka jenguklah ia, dan apabila ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya: (HR.Muslim)
Suatu malam hati ini begitu gelisah, gundah, sedih dan tak tahu apa penyebabnya..
Ingin serasa pergi ta'lim atau tarbiyah dan semacamnya, tapi malam sudah sangat larut. Mana ada orang yang ta'lim ataupun tarbiyah malam-malam gini kalau untuk ikhwah mungkin banyak.
Jadi, gimana caranya untuk mengobati hati ini? Malam ini butuh banget yang namanya nasehat.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada hp yang berada di atas tempat tidurku, muncul sebuah ide dari kepalaku.. "sms, akhwat saja..minta nasehat dari mereka" akhirnya, terkirimlah beberapa sms ke nomor-nomor akhawaatii yang Intinya berisikan kalau aku butuh nasihat..
Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengarlah bunyi pesan masuk di inbox hpku, dan ternyata balasan sms dari saudari-saudariku. Dan berikut ini isi nasehat-nasehat dari mereka…
K ika:
"iman itu seperti pakaian..ia bisa saja lusuh maka perbaharuilah keimanan kita karena iman adalah satu-satunya harta kita yang kekal abadi hingga hari akhir kelak"
"kesedihan dan kebahagiaan adalah ritme kehidupan kita. Begitulah kehendak rabb kita, dan satu keyakinan dan kita bahwa kebahagiaan, ketenangan. Dan ketentraman hati sepenuhnya hanya hadir dengan banyak mendekatkan diri dengan Rabb kita. Jika kita telah bersamaNya maka apalagi yang melarutkan dalam kesedihan itu.."
K nisa:
"tiada seorang mu'min ditimpa rasa sakit, kelelahan, diserang penyakit/kesedihan, sampaipun duri yang menusuknya kecuali dengan itu allah mengapusdosa-dosanya (HR.Bukhari)"
"jika dakwah adalah jalan yang panjang, jangan pernah berhenti sebelum menemukan penghujungnya. Jika bebannya berat, jangan minta yang ringan, tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. Jika pendukungnya sedikit, jadilah yang sedikit itu. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengatakan "ISTIRAHAT KITA ADALAH DI SYURGA"
ALLOHU AKBAR!!
"Penat-penatlah dalam dakwah, lelah-lelahlah dalam dakwah, karena boleh jadi ketika amal-amal kita tidak cukup sebagai bekal, maka tetes-tetes air mata, butir-butir keringat, lelah dan penat itulah yang menjadi pelindung di hari perhitungan."
"sahabat itu aura.. melompat bersama ketika girang, duduk disamping ketika lelah, memeluk saat gundah. Sahabat itu percaya.. Menyelidiki sebelum memaki, menatap sebelum menjauhi. Sahabat itu peduli…menuntun ketika hilang arah, bukan mendorong saat lemah. Sahabt itu bagaikan bintang..tak selalu terlihat namun selalu ada di hati..apa kabar ukhty? Bagi yang sakit semoga diberi kesabaran dan kesembuhan oleh alloh. Bagi yang sedih, semoga diberi kelapangan hati. Bagi yang sedang marah, bersegeralah untuk beristighfar. Bagi yang sedang bahagia, bagi2 dong kebahagiannya..anaa uhibbukifillah"
"Al mughiroh bin syu'bah berkata, "manusia yang paling utama bagi dirimu adalah yang membantumu untuk TAKUT pada ALLOH"
K alifah:
Rasululloh shallallhu 'alaihi wa sallam "Demi Alloh, sungguh Alloh lebih senang dengan taubat hambaNya daripada senangnya seseorang diantara kamu yang menemukan kembali ontanya yang hilang di padang luas (HR.Bukahri)"
K rahma:
"ketika wajahmu penat memikirkan masalah, berwudhulah! Ketika tanganmu letih menggapai cita-cita, bertakbirlah! Ketika pundakmu lelah memikul amanah,bersujudlah! Ikhlaskan, pasrahkan, dan tawakkallah padaNya, agar tunduk di saat yang lain runtuh dan tegar di saat yang lain terlempar."
K eka:
"Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, benar-benar akan kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan (QS.29:7)"
"Ya alloh menjelang pagi-Mu yang indah ini inginku tebar doa untuk saudariku..jadikanlah hari ini wujud hari yang penuh berkah..mudahkanlah segala urusannya..jadikanlah ia ikhlas dalam setiap tarikan nafasnya, agar setiap aktivitasnya adalah ibadah padaMu. Lindungilah dia dari hal-hal buruk, berikanlah kebahagiaan untuknya dengan ridhoMu.amien
Ukh diena:
"tidak ada yang lebih aku sesali daripada penyesalanku terhadap hari dimana ketika matahari tenggelam, sementara umurku berkurang tapi amalku tidak bertambah.(Ibnu mas'ud)"
K nurul:
"Apa kabar HATI?masihkah ia menjadi raja diri yang suci? Apa kabar CINTA?masihkah ia bersandar pada yang Akbar??Apa kabar IMAN?masihkah ia menjagaNya? Lalu apa kabar dik? Masihkah SENYUM terkumpul karena rasa SYUKUR pagi ini??
"Adikku yang kusayangi karena alloh, saat alloh menjawab doamu, Dia menambah imanmu. Saat alloh belum menjawab doamu, Dia menambah kesabaranmu. Saat alloh menjawab doamu, tapi ternyata tidak seperti keinginanmu, maka Dia memilih yang terbaik untukmu. Tetaplah berdoa dik, karena itulah yang terbaik.."
K aisyah:
Ali bin Abi thalib pernah berkata: "sesungguhnya dunia ini mulai pergi dan akhirat akan segera datang. Dan anak adam itu terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengejar dunia dan kelompok kedua adalah orang-orang yang mengejar akhiratnya. Sesungguhnya dunia adalah tempat beramal bukannya tempatnya perhitungan dan akhirat adalah tempatnya perhitungan bukannya tempat untuk beramal." semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang senantiasa menyiapkan bekal utnuk akhirat kita bukannya justru terpedaya dengan dunia ini.wallohu a'lam.
k vee:
"kesabaran itu meneguk air pahit tanpa meringis kesakitan.."
K muharrikah:
"muslimah sejati itu selalu tampak santai dalam kesibukan.. Tersenyum dalam kesedihan..tenang di bawah tekanan..tebah dalam kesulitan dan optimis di depan tantangan.."
Subhanalloh.. Syukron wa jazaakunallahu khairan atas nasehat-nasehatnya…
Indahnya islam ini…
Indahnya ukhuwah ini..
Semoga alloh selalu menuntun langkah-langkah kaki kita untuk tetap istiqomah di jalan yang HAQ, dan mengumpulkan kita di mimbar cahaya nanti hingga kita bertemu di pintu Jannah kelak..amin allohumma amin..
" jazaakunallahu khairan buat kk2 dan saudariku yang senantiasa memberikan nasehatnya..^_^"
-Serambi madinah, 1 juli 2009-
Ayo baca Lagi...
Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah. (HR .Muslim)
Nasehat dari mereka..
Surat Untuk saudariku
Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa
kupanggil adik mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi
aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita
tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai suka sama rok…”
Yang dulu akrab dengan aksesoris rocker sekarang senang ikut pengajian...”
Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian
padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan
untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri
Saudariku , aku memohon maaf karena telah lalai dan lama tak berkabar padamu. Bukan apa - apa, sebab aku sendiripun bingung dengan keadaanku sendiri. Tak cuma soal yg kuhadapi dan tempo hari pernah kuceritakan. Tapi ada persoalan baru yg entah mengapa serasa menguras isi pikiranku. Sepertinya masalah itu selalu saja dekat dengan sisi hidupku.tapi aku tak ingin berdebat tentang ini. Aku hanya terpesona melihatmu sekarang, pada gerak dan perubahanmu Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.
Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.
Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.
Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji.
Saudariku,
Masih akrab dulu kau pernah cerita padaku tentang teman-temanmu.
Beberapa diantaranya sangat “memperhatikan”penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya sangat akrab dengan baju yang sempit dan serba pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
Dan kaupun ingin seperti mereka !
Saudariku,
Apa yang mereka dapat dari semua ini?
“cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?
Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita yang berpenampilan
seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan
bahkan berlomba untuk menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.
Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar sentral lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?
Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang
tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa
cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.
Tapi seorang itu mulia karena apa yang diyakininya dalam ucapan, perbuatan dan yang ada didalam hatinya.
Ya!.ingatlah kembali bagaimana kesetiaan para sahabat dan sahabiyah nabi kepada Allah. Meski dengan ujian yang begitu berat mereka tidak sedikit tertipu dengan Indahnya bujukan dunia.
Aku pernah menceritakan kisah Sumayyah kepadamu kan ?
yang gugur sebagai syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Juga , saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah yang disiksa oleh Quraisy tanpa henti menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk ?
Sebenarnya aku tak ingin banyak mendiktemu dengan nasehat – nasehat ini.
Tapi sebagai saudarimu aku tentu tak ingin kau ” jatuh ”.
Islam adalah agama yang sangat mulia. Oleh karena itu, sebagai seorang yang masih mengaku " Radlitu billahi Robba Wabil islaami diina wabim muhammadin nabiyyaw warosuula" aku rela Allah Tuhanku, islam agamaku, Muhammad nabi dan rasulku,. Mari kita jadikan ajaran Islam sebagai barometer kehidupan.kita
Maaf kalau kakakmu ini berlebihan
Tapi Sesungguhnya Islam telah datang untuk segenap makhlukNya, termasuk pula padamu dan padaku.
Ia memanggil-manggil kita dengan sejuta makna dan cahaya di penghujungnya
Cahaya yang akan menghantarkan kita di syurga
Dan memuliakan kita di dunia
Percayalah !
www.muslimah.or.id
...dibacakan dalam Seminar Muslimah "The Spirit of Teenagers, Semarak Putih Abu-Abu",
15 Maret 2009
Ayo baca Lagi...
Ukhti..selamanya kita bersaudara

Gak kerasa perjalanan yang kita tempuh sudah hampir melewati satu tahun kepengurusan
Banyak kisah sedih, senang,dan kecewa yang kita lalui bersama
Terkadang diri ini musti rela untuk mengorbankan segala macam yang kita punya
Waktu, tenaga, pikiran bahkan tak jarang air mata pun tumpah ketika melakukan sebuah rencana kerja
Rencana kerja untuk dakwah ini…
Rasa kecewa, sedih ataupun apalah namanya yang terkadang membuat diri ini sakit hati bahkan menitikkan air mata, seakan terbayar dengan sendirinya
Terbayar dengan kebersamaan yang kita lalui..
kebersamaan yang sungguh nikmat..
kebersamaan yang teramat sangat membuat hati ini bahagia walaupun masalah di luar sana bagaikan gunung yang ingin menindih pundak-pundak kita
Sungguh banyak yang kita telah lewati selama setahun ini,,
Terkadang program kerja yang begitu teramat berat membuat kita ingin mundur dari jalan dakwah
Membuat kita merasa tidak sanggup lagi untuk memikul amanah ini
Tapi, dengan kebersamaan yang kita lalui
Perhatian yang kalian berikan
Dan nasihat yang tidak pernah lelah kalian sampaikan
Membuat semangat ini kembali tumbuh
Membuat semangat ini bangkit untuk terus berjuang di jalan alloh
Membuat diri ini tersadar bahwa kita hidup hanyalah untuk beribadah pada Alloh..
Bukan untuk yang lainnya..
Teringat perkataan seorang kakak..
"kita ini seperti penumpang yang berada di sebuah kapal, yang sebentar lagi akan berlabuh, dan di pelabuhan tersebut kita akan turun dan digantikan oleh penumpang2 yang baru"
Begitulah kita saat ini, sebentar lagi masa kita akan tiba, masa dimana orang-orang yang dipilih oleh alloh akan menggantikan kita.. Entah kah kita masih bissa menjadi penumpang di kapal tersebut ataukah kita mengganti kapal yang lain..
Entahlah..hanya alloh yang mengetahui itu..
Dimanapun alloh menempatkan kita kelak,,
Bukanlah menjadi suatu alasan bahwa ukhuwah yang kita jalin ini akan putus
Kebersamaan yang kita rasakan bisa pergi
Dan senyum serta nasihat itu akan menghilang
Dimanapun kita berada,
Dimanapun alloh menempatkan kita,
Kita akan tetap bersaudara,
Bersaudara karena alloh..
Tidak akan pernah hilang senyum, canda, tawa dan keceriaan itu ukhti ..
Tidak akan pernah…
Kita akan tetap bersama di jalan ini..
Bersama selamanya hingga alloh memasukkan kita bersama di jannahNya kelak
"teruntuk saudari-saudariku di FUMM, maafkan diri ini jika pernah membuat kalian kecewa selama setahun perjalanan ini, jazaakunallahu khairan untuk kebersamaan selama ini.. Uhibbukunnafillah"
"Serambi madinah 29 juni 2009 di kamar biru-ku"
Ayo baca Lagi...
Inilah Akhwat sejati

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati..".
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum
"anakku.. Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang berada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya
Akhwat sejati bukan dilihat dari banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dilihat dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering dibicarakan mulutnya
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana ia berbicara
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya
"lantas apa lagi abi?" sahut putrinya
ketahuilah putriku..
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian, tetapi dilihat sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur
Dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya saat bergaul
Setelah itu sang anak kembali bertanya "siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu abi?"
Sang ayah memberikannya buku dan berkatalah "pelajarilah mereka!"
Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan "istri rosulullah shalallahu 'alaihi wa sallam"
Dikutip dari percikan iman
Ayo baca Lagi...
Surat Ibu Kepada Anak Durhaka
Wahai Anakku!
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.
Wahai Anakku!
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.
Wahai Anakku!
Dua puluh lima tahun yang lalu adalah hari yang begitu membahagiakan hidup ibu. Ketika dokter memberitahu ibu, ibu sedang mengandung. Semua ibu tentu mengetahui makna ungkapan itu, yakni terhimpunnya kebahagiaan dan kegembiraan, serta awal perjuangan seiring dengan adanya berbagai perubahan fisik maupun psikis. Sesudah berita gembira itu ibu peroleh, dengan senang hati, ibu mengandungmu selama sembilan bulan.
Ibu berdiri, tidur, makan dan bernafas dengan susah payah. Namun itu semua tidak menyebabkan surutnya cinta ibu padamu dan kebahagiaan ibu menyambut kehadiranmu. Bahkan rasa cinta dan kerinduan ibu padamu tumbuh subur dan berkembang hari demi hari. Ibu mengandungmu dalam kondisi yang lemah dan bertambah lemah, payah dan bertambah payah. Ibu sangat bahagia meski bobotmu semakin berat, padahal kehamilan itu sangat berat bagi ibu.
Itulah perjuangan yang akan disusul dengan cahaya fajar kebahagiaan setelah berlalunya malam panjang, yang membuat ibu tidak bisa tidur dan kelopak mata ibu tak bisa terpejam. Ibu merasakan derita yang sangat, rasa takut dan cemas yang tak bisa dilukiskan dengan pena dan tak sanggup diungkapkan dengan retorika lisan. Ibu telah berkali-kali melihat kematian dengan mata kepala ibu sendiri, sehingga akhirnya engkau lahir ke dunia ini. Air mata tangismu yang bercampur dengan air mata kegembiraan ibu telah menghapus seluruh derita dan luka yang ibu rasakan.
Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.
Itulah hari-hari dan malam yang ibu lalui sebagai pelayan yang tak pernah menyia-nyiakanmu sedikit pun. Sebagai wanita yang menyusuimu tiada henti, dan sebagai pekerja yang tak pernah putus hingga engkau tumbuh dan menjadi seorang remaja. Dan mulailah nampak tanda-tanda kedewasaanmu. Ketika itu pula, ibu kesana kemari mencarikan calon istri yang kau inginkan. Lalu tibalah saat pernikahanmu. Denyut jantung ibu terasa berhenti dan air mata ibu deras bercucuran karena gembira melihat hidup barumu dan karena sedih berpisah denganmu.
Saat-saat yang begitu berat telah lewat. Namun engkau seolah bukan lagi anak ibu, seperti yang ibu kenal selama ini. Sungguh engkau telah mengabaikan diri ibu dan tidak mempedulikan hak-hak ibu. Hari-hari berlalu dan ibu tidak lagi melihatmu dan tidak pula mendengar suaramu. Engkau masa bodoh kepada ibu yang selama ini menjadi pelayan yang mengurusimu.
Wahai Anakku!
Ibu tidak meminta apa pun selain posisikanlah diri ibu ini seperti kawan-kawanmu yang terdekat denganmu. Jadikanlah ibu sebagai salah satu terminal hidupmu sehari-hari, sehingga ibu dapat melihatmu meskipun sekejap.
Wahai Anakku!
Punggung ibu telah bongkok. Anggota tubuh ibu telah gemetaran. Beragam penyakit telah membuat ibu semakin ringkih. Rasa sakit senantiasa mendera ibu. Ibu sudah susah untuk berdiri maupun duduk, namun hati ibu masih sayang padamu.
Andaikan ada seseorang yang memuliakanmu sehari, tentu engkau akan memuji kebaikannya dan keelokan budinya. Padahal, ibumu ini telah benar-benar berbuat baik kepadamu, namun engkau tak melihatnya dan tak mau membalas kebaikannya. Ibumu telah menjadi pelayanmu dan telah mengurusmu bertahun-tahun. Lantas manakah balas budi dan hak ibu yang harus engkau tunaikan? Sekeras itukah hatimu? Apakah hari-hari sibukmu telah menyita seluruh waktumu?
Wahai Anakku!
Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?
Jadikanlah ibu seperti pelayan-pelayanmu yang engkau beri upah. Curahkanlah setitik kasih sayangmu. Renungkanlah jasa ibu dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah amat menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Wahai Anakku!
Ibu sangat berharap bisa bersua denganmu. Ibu tak ingin apapun selain itu. Biarkanlah ibu melihat muramnya wajahmu dan episode-episode kemarahanmu.
Wahai Anakku!
Sisakan peluang di hatimu untuk berlembut-lembut dengan seorang wanita renta, yang diliputi kerinduan dan dirundung kesedihan ini. Yang menjadikan kedukaan sebagai makanannya dan kesedihan sebagai selimutnya. Engkau cucurkan air matanya. Engkau membuat sedih hatinya dan engkau memutuskan hubungan dengannya.
Ibu tidak mengeluhkan kepedihan dan kesedihan ibu kehadirat-Nya, karena jika ibu adukan perkara ini ke atas awan dan ke pintu gerbang langit sana, ibu khawatir hukuman akan menimpamu, dan musibah akan terjadi dalam rumah tanggamu, lantaran kedurhakaanmu. Karena ibu teringat peringatan junjungan kita Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
"Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari).
"Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Ahmad).
"Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya." (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).
"Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).
Tidak, ibu tidak menginginkan itu. Engkau tetap menjadi buah hati dan hiasan dunia ibu.
Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.
Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).
www.wahdah.or.id
Ayo baca Lagi...
Detik-detik akhir kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Sebuah kisah yang menceritakan detik-detik terakhir wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Manusia yang paling dicinta. Sebuah kisah yang menggambarkan cinta sang rasul yang sangat mengagumkan dan menggetarkan dada orang-orang yg beriman.
Menjelang beliau wafat, beliau melakukan haji terakhir yang disebut sebagai haji wada’ (haji perpisahan).
Saat beliau melakukan ibadah tersebut turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yg artinya:”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.al-Maidah:3)
Maka menangislah Abu Bakar as shiddiq ra.
Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadanya:
“Apa yg membuatmu menangis dalam ayat tersebut?”
Abu Bakar ra menjawab:” Ini adalah berita kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”
Kembalilah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari haji wada’ dan kurang dari tujuh hari wafat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, turunlah ayat al-Qur’an paling akhir yg artinya:
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yg terjadi pada) hari yg pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yg sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS.al-Baqarah:281).
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mulai menampakkan sakit beliau. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku ingin mengunjungi syuhada ‘Uhud”, maka beliaupun berangkat pagi menuju syuhada ‘Uhud di awal-awal bulan Shafar tahun 11 H.
Lalu berdiri diatas makam para syuhada dan berkata:
” Assalamu’alaikum wahai syhada ‘Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului kami dan kami insya Allah akan menyusul kalian, dan sesungguhnya aku, insya Allah akan menyusul kalian.”
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pulang sambil menangis. Maka para sahabat bertanya kepada Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Apa yang membuat anda menangis wahai Rasulullah ?
” Beliau bersabda: ” Aku merindukan saudara-saudaraku seiman.”
Mereka berkata:” Bukahkah kami adalah saudaramu seiman wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:” Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, adapun saudara-saudaraku seiman adalah suatu kaum yg datang setelahku, mereka beriman kepadaku sedang mereka belum pernah melihatku.”
Saya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala mudah-mudahan kita semua termasuk mereka yg dirindukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Pada hari senin 29 Shafar beliau menghadiri jenazah di Baqi’. Ketika pulang beliau merasakan pusing di kepala dan panas badannya meninggi. Maka beliaupun mulai sakit dan terus bertambah sakit.
Selama sakitnya itu beliau tetap memimpin shalat selama 11 hari dari 13 atau 14 hari masa sakit beliau. Sejak kamis malam, 4 hari sebelum wafat beliau, pada waktu shalat Isya’, beliau meminta agar Abu Bakar ra menggantikannya dalam memimpin shalat.
Tiga hari sebelum beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau mulai mengeras. Beliau saat itu berada dirumah Sayyidah Maimunah ra.
Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Kumpulkanlah istri-istriku.” Maka berkumpullah istri-istri beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda kepada mereka:” Apakah kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah ‘Aisyah?” Maka mereka menjawab:” Kami mengizinkan anda wahai Rasulullah.”
Kemudian beliau berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali ibn Abi Thalib, dan al-Fadl ibn al-‘Abbas ra. Maka merekapun membopong Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu mereka memindahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari kamar Maimunah ra menuju kamar ‘Aisyah ra.
Adapun para sahabat ra, baru pertama kali ini mereka melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibopong di atas dua tangan. maka berkumpullah para sahabat ra dan mereka berkata:” Apa yang terjadi pada Rasulullah, apa yang terjadi pada Rasulullah?”
Mulailah manusia berkumpul di dalam masjid. Masjidpun mulai penuh dengan para sahabat ra.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibawa menuju rumah ‘Aisyah ra.
Mulailah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencucurkan keringat, berkeringat dan berkeringat.
Berkatalah ‘Aisyah ra:”Sungguh belum pernah aku melihat ada seorang manusia yg berkeringat deras seperti ini.” Maka dia mengambil tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan dengannya dia mengusap keringat beliau.
(Maka mengapakah dia mengusap keringat dg tangan beliau dan tidak mengusapnya dengan tangannya sendiri?)
‘Aisyah ra berkata:” Sesungguhnya tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lebih lembut dan lebih mulia daripada tanganku, oleh karena itulah aku mengusap keringat beliau dengan tangan beliau dan tidak dengan tanganku.” (ini adalah sebuah penghormatan terhadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam)
‘Aisyah ra berkata:”Aku mendengar beliau berkata:”Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat, Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.”
Mulailah suara-suara didalam masjid meninggi.
Bersabdalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Apa ini?”
Berkatalah ‘Aisyah ra: “Sesungguhnya manusia mengkhawatirkan anda wahai Rasulullah.”
Beliaupun bersabda: ”Bawalah aku kepada mereka.” Maka beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu. maka para sahabat menyiramkan tujuh qirbah (timba) air kepada beliau hingga beliau bangkit, dan membawa neliau naik ke atas mimbar.
Jadilah khutbah tersebut adalah khutbah terakhir beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, menjadi kalimat terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan doa terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Beliau bersabda:” Wahai manusia, kalian mengkhawatirkan aku?”
Mereka menjawab:” Ya, wahai Rasulullah.”
Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga). Demi Allah, sungguh seakan-akan aku sekarang sedang melihat kepadanya di depanku ini. Wahai manusia, demi Allah, tidaklah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya dunia atas kalian, sehingga kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”
Kemudian beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Allah Allah, shalat, Allah Allah, shalat.” (maksudnya; Aku bersumpah demi Allah terhadap kalian agar kalian menjaga shalat) beliau terus mengulang-ulangnya, lantas bersabda:” Wahai manusia, bertakwalah kalian terhadap kaum wanita, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap kaum wanita.”
Kemudian beliau bersabda:” Wahai manusia, sesungguhnya ada seorang hamba, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan pilihan kepadanya antara dunia dan antara apa yang ada di sisi-Nya, maka dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Tidak ada yang memahami siapakah yang dimaksud dengan seorang hamba oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tadi, padahal yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah diri beliau sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan pilihan kepada beliau dan tidak ada seorangpun yang paham selain Abu Bakar ra.
Dan kebiasaan para sahabat ra, saat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berbicara adalah mereka diam, seakan-akan ada seekor burung yang bertengger di atas kepala mereka.
Maka saat Abu Bakar ra mendengar perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia tidak mampu menguasai dirinya, dengan serta merta dia menangis dengan sesengukan, dan ditengah masjid dia memotong pembicaraan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata:
”Kami tebus anda dengan bapak-bapak kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan ibu-ibu kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan harta-harta kami wahai Rasulullah.” dia mengulang-ulangnya, sementara para sahabat ra melihat kepadanya dg pandangan heran, bagaimana dia berani memotong khutbah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam?”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :”Wahai manusia, tidak ada seorangpun diantara kalian yg memiliki keutamaan di sisi kami melainkan kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak mampu membalasnya, maka aku tinggalkan balasannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setiap pintu masjid ditutup kecuali pintu Abu Bakar ra tidak akan di tutup selamanya.”
Kemudian mulailah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berdo’a untuk mereka dan berkata pada akhir do’a beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum wafat:
” Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian.”
Dan kalimat terkahir yang beliau sampaikan sebelum beliau turun dari atas mimbar sambil menghadapkan wajah beliau kepada ummat dari atas mimbar adalah:
” Wahai manusia sampaikanlah salamku kpd orang yg mengikutiku diantara ummatku hingga hari kiamat.”
Setelah itu beliaupun dibawa kembali ke rumah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Masuklah Abdurrahman ibn Abu Bakar, dan ditangannya ada sebatang siwak. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam terus melihat kearah siwak tersebut, tetapi tidak mampu berkata aku menginginkan siwak.
‘Aisyah ra berkata:”Aku paham dari pandangan kedua mata beliau, bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Maka aku ambil siwak itu darinya (yakni Abdurrahman ibn Abu Bakar), kemudian aku letakkan dimulutku, agar aku melunakkannya untuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian aku berikan siwak tersebut kepada beliau. Maka sesuatu yang paling akhir masuk ke dalam perut Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah air ludahku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Termasuk sebuah keutamaan dari Rabb-ku atasku adalah Dia telah mengumpulkan antara air ludahku dg air ludah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau wafat.”
Kemudian masuklah putri beliau Fathimah ra pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul awal 11 H, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya.
Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.”
Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa.
Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah ra: “Apa yg telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah ra berkata:” Pertama kalinya beliau berkata kepadaku:” Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yg pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kpd seluruh manusia yg hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.
Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.”
Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah ra. ‘Aisyah ra berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunai atau Ar-Rafiqul A’la.
Masuklah malaikat Jibril as menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.”
Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.”
Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.”
Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yg tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yg sebaik-baiknya.”
‘Aisyah ra menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.”
Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yg bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yg ridha dan tidak murka.”
Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”
Dia ra berkata:”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib ra terduduk karena beratnya kabar tersebut,
‘Ustman bin Affan ra seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri.
Adapun Umar bin al-Khaththab ra berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dg pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa as pergi untuk menemui Rabb-Nya.”
Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar ra, dia masuk kpd Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”
Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yg paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Ya Allah, berikanlah rizqi kepada kami, syafaat kekasih kami Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan satu teguk air yg menyegarkan dari haudh (telaga) beliau dg tangan beliau yg mulia.
Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad....
(ummulmiqdad.multiply.com)
Ayo baca Lagi...
Akhirnya Cintaku berlabuh karena ALLOH..

Awalnya aku bertemu dengannya di sebuah acara yang di selenggarakan di rumahku sendiri, gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dengan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak.
Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya, akhirnya dengan pede-nya kuberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman denganku, dan Cuma mengatakan, "Maaf" dan berlalu begitu saja meninggalkanku. Betapa malunya aku dengan teman-teman yang berada di sekitarku. "ini cewek kok jual mahal banget! Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau!" ujarku.
Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, aku selalu ikut bersama papa.
Gadis itu bernama nina, kuliah di sebuah fakultas kedokteran. Dia merupakan anak yang tidak suka berpesta, berfoya-foya dan keluyuran seperti cewek kebanyakan di kalangan kami. Aku pun jarang melihatnya jika aku pergi ke rumahnya. Dengan berbagai alasan yang kudengar dari pembantunya, sakitlah, lagi mengerjakan tugas, atau kecapean. Pokoknya, dia tidak pernah mau keluar. Hingga suatu hari aku dan papa sedang bertamu ke rumahnya, pada saat itu nina baru saja pulang-dengan busana muslimahnya yang rapi-, terlihat turun dari mobil, namun belum jauh melangkah dia pun terjatuh pingsan dan mukanya terlihat sangat pucat. Kami yang berada di ruang tamu bergegas keluar dan papanya pun menggendong ke kamar serta meminta tolong kami untuk menghubungi dokter. Dari hasil pemeriksaan dokter, nina harus dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya aku datang ke rumah sakit ber-maksud untuk menjenguknya, betapa kagetnya aku ketika kutahu nina terkena leukimia (kanker darah). Aku bertanya, "kenapa gadis selembut dan sesopan dia harus mengalami hal itu?" perasaan kesalku padanya kini berubah menjadi kasihan dan khawatir. Setiap usai kuliah kusempatkan untuk datang menjenguknya. Aku mendapatinya sering menangis sendirian..entah itu karena tidak ada yang menjaganya atau karena penyakit yang diderita.
Beberapa hari di rumah sakit, nina memintaku keluar setiap kali aku masuk. Aku pun mendatanginya di rumah, tapi dia tidak pernah mau keluar menemuiku dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak menyerah begitu saja, kucoba menelpon nina dan berharap dia mau bicara denganku. Namun, dia tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, lalu kukirimkan sms kepadanya agar dia mau menjadi pacarku, tetapi tidak ada balasan malah hp-nya dinonaktifkan semalaman. Keesokan harinya aku enkat datang ke rumahnya untuk meminta maaf atas kelancanganku. Ternyata ia akan bernagkat ke kota makassar, kampung orang tuanya. Karena orang tuanya tak dapat mengantarnya aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi nina lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan orang. Sebelum naik ke mobil dia menitipkan kertas untukku kepada mamanya.
Alangkah hancur hatiku ketika membaca sebait kalimat yang berbunyi, "maaf saat ini aku hanya ingin berkonsentrasi kuliah." hatiku remuk dan ku pulang denganperasaan kesal sekai. Ini pertama kalinya aku ingin pacaran, tapi ditolak. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan hubungan seperti pacaran itu karena begitu banyak dampak negatifnya, sampai ada yang rela bunuh diri karena ditinggalkan kekasihnya, naidzubillahi min dzalik.
Dari perpisahan itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai gelar sarjana aku raih. Lalu aku bekerja di perusahaan milik keluargaku sebagai satu-satunya ahli waris. Melihat ketekunanku dalam bekerja, papa nina menyukaiku hingga hubungan kami menjadi akrab dan kuutarakanlah maksudku bahwa aku menyukai nina, anaknya dan ternyata papa nina setuju untuk menjadikanku sebagai menantunya.
24 oktober 2006, bertepatan dengan hari raya idul fitri, aku dan orang tuaku bersilaturrahmi ke rumah keluarga nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan aku dan nina. Tapi pada saat itu nina baru di rawat di rumah sakit sejak bulan ramadhan. saat kutemui, nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumnya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orangtuanya akan bernagkat ke luar negeri. Tetapi nina tidak pernah mau meladeniku.
Suatu hari aku mendapati nina terlihat kesakitan, terlihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Aku bermaksud untuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya. Betapa kagetnya diriku dibuatnya, aku tidak menyangka sama sekali nina menamparku. Sungguh betapa istiqomahnya dia dalam menjaga kehormatan untuk tidak disentuh oleh laki-laki yang bukan mahromnya(saat itu aku belum tahu tentang hal ini). Kejadian tersebut secara tak sengaja terlihat mama nina maka nina pun dimarahi habis-habisan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kulihat nina segera melepas infusnya dan berlari menuju kamar mandi. Nina pun mengurung diri di kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa kami mendobrak pintu kamar mandi dan kami dapati nina tergeletak di lantai tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang keluar.
setelah sadar, aku berusaha berbicara dan minta maaf kepadanya atas kejadian tadi, namun nina terus-terusan menangis. Aku pun bertambah bingung, apa yang musti aku lakukan untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, tapi nina malah mendorongku dengan keras dan berlari keluar dari kamar menuju taman. Ketika kudekati, nina berteriak hingga menjadikan orang-orang memukuliku karena menyangka aku mengganggu nina. Karena itulah nina semalaman tidur di taman dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah waktu subuh menjelang kulihat nina beranjak untuk melaksanakan shalat subuh di masjid, aku pun turut sholat. Namun setelah shalat tiba-tiba nina menghilang entah ke mana. Aku mencarinya berkeliling rumah sakit tersebut. Dan lama berselang kulihat banyak kerumunan orang dan ternyata nina sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan hp berada di sampingnya, sepertinya dia barusan telah berbicara dengan seseorang. Keadaannya saat itu sangat kritis sehingga membuat pernafasannya harus dibantu dengan oksigen. Kata dokter paru-paru nina basah yang mungkin diakibatkan semalaman tidur di taman.
nina tak kunjung juga sadar. Dengan perasaan khawatir dan bingung aku berdoa dengan menatap wajahnya yang pucat pasi..
Tiba-tiba ada sebuah sms yang masuk ke hp nina, tanpa sadar aku pun membaca dan membalas sms tersebut. Aku juga membuka beberapa sms yang masuk ke hpnya dan aku sangat terharu dengan isinya, ternyata banyak sekali orang yang menyayanginya. Diantaranya adalah orang yang bernama ukhti, dulu sebelum aku mengetahui ukhti adalah panggilan untuk saudari perempuan, aku sempat cemburu dibuatnya. Aku mengira ukhti itu adalah pacar nina yang menjadi alasan dia menolakku.
Setelah nina tersadar dari pingsannya, aku menunjukkan sms yang dikirimkan saudari-saudarinya dan dia sangat marah ketika tahu aku sudah membaca dan membalas sms dari saudari-saudarinya. Dia pun akhirnya melarangku untuk memegang hp hya apalagi mengangkat atau menghubungi saudari-saudarinya.
Namun, tetap saja aku sering bersmsan dengan saudari-saudarinya untuk mengetahui kenapa sikap nina begini dan begitu? Dari sinilah aku mendapat sebuah jawaban bahwa nina tidak mau bersentuhan apalagi berduaan denganku karena aku bukan muhrimnya dan nina menolak untuk berpacaran serta bertunangan denganku karena di dalam islam tidak ada istilah seperti itu dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang non muslim.
Aku tahu juga nina mencari seseorang ikhwan yang mencintai karena Alloh subhanahu wa ta'ala bukan atas dasar hawa nafsu. Akhirnya aku tahu akan sikap nina selama ini semata-mata dia hanya ingin menjalankan syari'at islam secara benar. Hari berlalu dan aku terus blajar sedikit-demi sedikit tentang isalm dari nina dan saudari-saudarinya, terutama dalam melaksanakan sholat lima waktu tepat pada waktunya. Saat itu aku merasakan ketenangan dan ketentraman selama menjalankannya dan menimbulkan perasaan rindu kepada Alloh subhanahu wa ta'ala untuk senantia beribadah kepadaNya. Niatku pun muncul untuk segera menikahi nina agar tidak terjadi fitnah, namun kondisi nina semakin memburuk. Dia selalu mengigau memanggil saudati-saudarinya yang dicintai karena Alloh..
Melihat hal itu aku membawanya ke kota makassar, kampung mama kandung nina untuk mempertemukannya dengan saudari-saudarinya, Qadarullah aku tidak berhasil mempertemukan mereka. Yang ada, kondisi nina semakin parah dan penyakitku juga tiba-tiba kambuh sehingga aku pun harus dirawat di tumah sakit.
Orang tua nina datang dan membawanya kembali ke kota makassar tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku juga di opname. Di makassar, nina diawasi dengan ketat oleh papanya, karena papa nina kurang suka dengan akhwat, apalagi yang bercadar. Rumah sakit dan rumah yang ditempati nina dirahasiakan. Dan nina punta tahu dimanakah ia berada. Karena kondisinya masih lemah, nina pun tak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia kadang dibius, apalagi ketika akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang satunya agar tidak tahu dimana keberadaannya, karena papanya tidak ingin ada akhwat yang menjenguk nina. Sampai-sampai hp-nya pun diambil nina. Namun, karena nina masih mempunyai hp yang dia sembunyikan dari papanya, sehingga beberapa kali nina berusaha kabur untuk menemui saudari-saudarinya, hingga akhirnya nina dikurung di dalam kamar..
Mendengar hal itu, aku langsung menyusul nina ke makassar dan aku sempat bicara dengannya dari balik pintu. Nina menyuruhku untuk menemui seorang ustadz di sebuah masjid di kota itu. Dari pertemuanku dengan ustadz tersebut aku pun diajak ta'lim beberapa hari dan aku nginap disana. Papa nina menyangka nina telah mengusirku sehingga ia pun dimarahi. Setibanya di rumah sakit aku jelaskan duduk perkaranya kepada papa nina, bahwa ia tidak bersalah dan aku mengatakan agar pernikahan kami dipercepat.
Hari kamis, 24 november 2006. kami melangsungkan pernikahan dengan sangat sedehana. Acara tersebut Cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. Betapa senangnya hatiku, akhirnya aku bisa merasakn cinta yang tulus karena alloh subhanahu wa ta'ala. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah. Wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada alloh subahanahu wa ta'ala…doaku saat itu.
Sepulang dari mengantar ustadz, perasaan bahagia itu seakan buyar mendapati nina yang baru saja menjadi istriku tergeletak di lantai, hidung dan mulutnya kembali berlumuran darah. Dan tangannya terlihat ada goresan… kami langsung membawanya ke rumah sakit, di perjalanan, kondisi nina terlihat sangat lemah. Terdengar suaranya memanggilku dan berkata agar aku harus tetap di jalan yang diridhai-Nya sambil memegang erat tanganku karena kesakitan. Baru pertama kali ia memegang tanganku dengan tulus, air mataku tak tertahankan melihat keadaan nina yang terus berdzikir sambil menangis..dia juga selalu menanyakan saudari-saudarinya dimana?
Setibanya di RS, aku bertanya-tanya kenapa tangan nina tergores. Aku pun menulis sms kepada saudari-saudari nina. Ternyata, tangan nina tergores ketika hendak menemui saudari-saudarinya dengan keluar dari kamar. Karena pintu kamar terkunci, nina ingin keluar melalui jendela sehingga menyebabkan tangannnya tergores.
Nina tak kunjung sadar hingga larut malam, aku pun tertidur dan tidak menyadari kalau nina bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin sekali menemui saudari-saudarinya dan dia tidak menyadari kalau hari telah larut malam, dia Cuma bertanya, "pengen ketemu saudariku karena sudah tidak ada waktu lagi." berhubung nina masih lemah, dia pun jatuh pingsan setelah beberapa saat melangkah.
Aku benar-benar kaget dan bingung mau memanggil dokter tapi tidak ada yang menemani nina. Akhirnya, aku menghubungi slaah seorang saudarinya untuk menemani.
Setelah aku dan dokter tiba, nina sudah tidak bernafas dan bergerak lagi. Pertahananku runtuh dan hancurlah harapanku melihat nina tidak lagi berdaya.. Dokter menyuruhku keluar. Pada saat itu kukira nina telah tiada, makanya aku segera menulis sms kepada saudari nina untuk memberitahu nina bahwa nina telah tiada. Namun, begitu dokter keluar, masya alloh! Denyut jantung nina kembali berdetak dan ia dinyatakan koma. Aku hendak memberi kabar kepada saudari nina tapi hpku lowbat dan tiba-tiba penyakitku pun kambuh lagi sehingga aku harus diinfus juga.
Jam 11.30. perasaanku mengatakan nina memanggilku, maka aku seger bangkit dari tempat tidur dan melepas infus dari tanganku menuju kamar nina. Kutatap wajah nina bersamaan dengan kumandang adzan sholat jum'at. Sembari menjawab adzan, aku terus menatap wajah nina berharap dia akan membuka matanya. Begitu lafadz laailaha illallah, suara mesin pendeteksi jantung berbunyi, menandakan bahwa nina telah tiada. Aku berteriak memanggil dokter, tapi qadarullah istriku sayang telah pergi untuk selama-lamanya dari duia ini. Nina langsung dimandikan dan dishalatkan selepas shlat jum'at, lalu doterbangkan ke rumah papanya di malaysia. Untuk terakhir kalinya kubuka kain putih yang menutupi wajah nina terlihat berseri…
Aku harus merelakan semua ini, aku harus kuat dan menerima takdirNya..
Teringat kata-kata nina, "berdoalah jika memang Alloh memanggilku lebih awal dengan doa, "ya Alloh, berilah kesabaran dan pahala dari musibah yang menimpaku dan berilah ganti yang lebih baik.
Setelah pemakaman, aku langsung balik ke jakarta karena kondisiku yang kurang stabil.. Astagfirulloh!! Aku lupa memberitahu saudari-saudari nina (mungkin karena aku terlalu larut dalam kesedihan), hingga secara spontanitas aku menghubungi mereka dan menyampaikan bahwa nina benar-benar telah tiada. Aku tahu pasti, mereka pasti sedih dengan kepergian saudari-saudari mereka yang mereka cintai karena Alloh subhanahu wa ta'ala. Dari ketiga saudari nina, ada seorang yang tidak percaya dan sepertinya dia sangat membenciku. Entah, kenapa sikapnya seperti itu?
Sekiranya mereka tahu-sebelum kepergiannya, nina selalu memanggil nama mereka-..tentulah mereka semakin sedih. Dalam hp nina terlihat banyak sms yang menunjukkan betapa indahnya ukhuwah dengan saudari-saudarinya. Semoga saudari-saudari nina memaafkan kesalahannya dan dari ana pribadi.
"salam sayang dari nina tu kakak Rini, sakinah, aisyah serta akhwat di makassar. Teruslah berjuang menegakkan dakwah ilallah.syukran atas perhatian kalian.."
(adhit)
"ditulis ulang dari Rubrik Kisah kamu majalah elfata volume 07 tahun 2007"
Ayo baca Lagi...