
SEBUAH TANYA YANG LALAI UNTUK SELALU KITA JAWAB
Sahabatku di jalan Allah…
Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”
Manusia-manusia agung seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.
Sahabatku dalam perjuangan…
Suatu ketika, aku diizinkan oleh Allah untuk menyiapkan penerbitan sebuah buku tentang kehidupan seorang mujahid besar abad ini, Syekh Ahmad Yasin rahimahullah. Terus terang harus kuakui, saat membaca buku itu, aku seperti baru saja mengenal mujahid yang lumpuh itu. Aku malu. Dan itu bukan basa-basi. Aku benar-benar malu pada Syekh itu. Menurutmu, dengan sekujur tubuh yang lumpuh seperti itu, apa yang akan engkau lakukan untuk masa depanmu? (Ingatlah, aku tidak sedang bertanya tentang “apa yang akan engkau lakukan untuk ummat ini dengan kelumpuhan seperti itu?”). Mengucilkan diri. Atau mencoba tersenyum dan mencoba bersabar. Bukankah kita patut malu pada Syekh tua itu? Mengapa kita tidak malu, dengan tubuh yang sedemikian sehat ini saja kita tak pernah benar-benar serius memikirkan masa depan ummat, apalagi dengan segala kelumpuhan fisik.
Hari itu, saat aku usai membaca tentang Syekh Ahmad Yasin, aku mencatat dalam pengantarku untuk buku itu kalimat-kalimat berikut:
“’Hidup ini sesungguhnya untuk apa?’. Itulah pertanyaan yang seharusnya bergelayut dalam pikiran dan benak kita sepanjang hari. Tidak untuk apa-apa, hanya sekedar untuk mengingatkan kita, apakah kelak bila kematian menjemput, ada jejak yang patut kita banggakan di hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil hisab. Bukankah hingga usia kehidupan kita sejauh ini, kita masih selalu saja melupakan hal itu? Kilap kemilau dunia terlalu sering membuat kita lalai menyiapkan “jejak-jejak kebaikan” yang menebarkan semerbak wewangian mengagumkan di dunia dan di akhirat kelak.
Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak pula yang beranjak menjemput kematian. Ke mana mereka semuanya pergi? Entahlah. Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan kafilah yang mengikuti mereka.
Banyak orang yang hidup. Fisik mereka sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh. Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.
Dulu –tapi belum lama-, seorang pria tua dan lumpuh pernah hidup di antara reruntuhan negri dan bangsanya. Bagi manusia berhati lemah, reruntuhan itu mungkin tak akan pernah menyisakan harapan. Tapi tidak bagi “manusia berjiwa langit” ini. Kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Lihatlah wajah dan senyumnya! Dari situ saja, engkau akan mendapatkan energi kehidupan. Kekuatan dan energi itulah yang membuatnya menjadi manusia paling ditakuti oleh bangsa paling “cerdik” (baca: cerdas tapi licik) di dunia, Israel. Padahal menggerakkan tangannya saja ia tak sanggup, apalagi menarik pelatuk senjata.
Dan hari itu, 22 Maret 2004, di sebuah subuh yang dingin, pria tua dan lumpuh itu meraih impian tertingginya. Ketakutan Israel yang semakin membuncah mendorong mereka untuk menembakkan rudal dari sebuah helikopter Apache buatan Amerika…hanya untuk membunuh seorang kakek yang bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak sanggup. Subuh yang dingin itu menjadi saksi. Tembok-tembok rumah yang terciprat darah itu pun kelak menjadi saksi, bahwa di tanah itu, seorang “panglima berkursi roda” memenuhi janji Tuhannya.
Ahmad Yasin, nama kakek tua yang lumpuh itu. Ada banyak kata untuknya. Dan buku kecil ini adalah “sedikit kata” tentangnya. Jika hingga detik ini, Anda belum juga menemukan jawaban untuk “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”, bacalah buku ini. Insya Allah, Anda akan mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup, lalu kelak meninggalkan jejak-jejak semerbak di dunia dan di akhirat.” (Pengantar buku Syekh Ahmad Yasin; Syahid yang Membangunkan Ummat , hal.ix-xi)
Sahabatku…
Setiap kali aku membaca kalimat-kalimat yang kutulis sendiri itu, setiap kali itu pula aku perasaan malu dalam jiwaku membuncah. Entah apa yang sanggup kita katakan? Tubuh yang sempurna ini, bukankah kelak ia akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengannya? Mata yang indah ini, wajah yang sempurna ini, bibir yang cantik ini, kedua tangan yang lengkap ini, kedua kaki yang tegap melangkah ini; Sahabat, tentang semua nikmat ini, bukankah kita akan dihisab?? Tapi sejauh ini, jejak kebaikan apakah yang telah kita tinggalkan melalui setiap anggota tubuh dan panca indera kita yang luar biasa kenikmatannya itu?
Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku, benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh
meyakininya? Atau mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia shaleh kekasih Tuhan? Ah, sudahlah…Ini semakin membuatku malu. Seorang ulama salaf pernah mengungkapkan pada muriid-muridnya –ia heran mengapa mereka begitu betah duduk bersamanya-, “Seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan aroma yang busuk dari para pelakunya, maka pasti kalian tidak akan berlama-lama duduk di majlisku ini.” Demikian ungkapnya. Lalu kita, ya, kita, sahabat, apa yang akan kita katakan?
Sahabatku…
Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu, “Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri, saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri. Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.
Cipinang Muara, 19 Rajab 1426H
Muhammad Ihsan Zainuddin
sumber: abul-miqdad.blogspot.com
Ayo baca Lagi...
Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah. (HR .Muslim)
“UNTUK APA KITA HIDUP?”
Apa susahnya Tabayyun???
"ukhti, ana tidak sangka ternyata anti berpacaran..kenapa ukhti?anti kan seorang akhwat…dah tau ilmunya kan?"
"ukhti, kamu ga kerja amanahmu gara-gara melakukan sesutu yang ga bermanfaat ya…ckckc..ukhti..ukhti.."
"eh tau ga..si ukhti ini gini loh..dia gini..bla..bla..bla.."
Miris sekali terasa jika lontaran-lontaran kalimat tersebut dikeluarkan oleh saudari-saudari kita sendiri..
Saudari yang selalu bersama kita, berjuang di jalan dakwah..
Hanya karena mendengar berita-berita bohong dan tidak jelas dari mulut-mulut orang tidak bertanggung jawab, mereka dengan relanya berburuk sangka kepada saudarinya sendiri..
“Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Dan lebih parah, jika kalimat-kalimat itu diucapkan di depan orang yang banyak…
Apakah itu dikatakan sebuah nasehat???
Seorang imam syafi'I saja mengatakan bahwa beliau tidak akan ridho jika dinasehati di depan orang banyak… apatah lagi jika hanya seorang akhwat yang mempunyai hati yang lemah,yang terkadang lebih sering lalai…
saudariku tidak sadarkah engkau telah menyakiti saudarimu???
Walupun engkau merasa bahwa itu adalah sebuah candaan, tapi apakah kau tidak pernah beprfikir tentang perasaan saudarimu jika di candai seperti itu???
Saudariku…
Kalian adalah seorang penuntut ilmu, yang tahu ilmu tentang tabayyun..
Dirimu telah menuntut ilmu sejak lama..
Dirimu pun selalu menasehati adik-adik dan orang-rang awam yang berada di sekitarmu tentang pentingnya tabayyun itu..
Lantas, mengapa sikap tabayyun itu tidak kau aplikasikan ketika mendengar berita yang simpang siur tentang saudarimu??
Apakah susah bertabayyun??
Mengapa engkau lebih senang ketika saudari-saudarimu itu diberikan "cap" yang jelek dari orang lain..?
Kenapa bukan kamu saja yang langsung mengklarifikasi berita yang kau dapatkan itu kepada saudarimu secara langsung?? Malah kau dengan mudahnya menyebarkan kabar yang belum pasti tersebut kepada yang lainnya..
Cobalah lihat Ayat alloh dalam alqur'an tentang tabayyun
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. al-Hujurat [49]: 6)
Saudariku..taukah dirimu?? Hanya 2 hal yang kau akan terjatuh dalam perkara ini…
Jika bukan fitnah…maka engkau telah menggibahi saudarimu…
Belumkah cukup ayat-ayat alloh dalam alqur'an dan hadits-hadits rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang ghibah??? Tentang fitnah?? Apakah itu belum cukup wahai saudariku..??
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Hujurat [49]: 12).
“Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Kamu menyebut sesuatu dari kawanmu yang ia sangat benci jika dikatakan.” “Bagaimana seandainya saya menceritakan apa yang memang terjadi pada saudaraku.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau menceritakan apa yang terjadi pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya; dan apabila engkau menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi pada saudaramu, maka engkau telah membohongkannya.” [HR. Abu Dawud].
Saudariku..cukuplah hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita untuk senantiasa menjaga lisan-lisan kita,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Janganlah kamu sekalian banyak bicara, kecuali untuk dzikir kepada Allah. Sebab, banyak bicara pada selain dzikir kepada Allah akan menyebabkan kerasnya hati, dan orang yangpaling jauh dari sisi Allah Subhanahu wa ta'ala adalah orang yang keras hatinya.” [HR. at-Tirmidzi].
Dalam sebuah riwayat yangdiketengahkan oleh Imam at-Tirmidzi dijelaskan bahwa kunci untuk meraih keluhuran jiwa adalah menjaga lisan. Mu’adz ra berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah beritahukan kepada saya amal perbuatan yang dapatmemasukkan saya ke dalam sorga dan menjauhkan dari neraka?” Beliau bersabda: “Kamu benar-benar menanyakansesuatu yang sangat besar. Sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, yaitu:
Hendaklah kamu menyembah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatuapapun, mendirikansholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bila kamu mampu menempuh
perjalanannya.” Selanjutnya, beliau bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalahperisai, shadaqah dapat menghilangkan dosa seperti halnya air memadamkan api, dan sholat seseorang pada tengahmalam.” Beliau lantas membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa
kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, serta mereka menafkahkan sebagian rizki yang telah Kamiberikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam-macam
nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Lalu, beliau bertanya kembali, “Maukah engkau aku tunjukkan pokok dan tiang dari segala sesuatu dan puncak keluhuran?” Sayaberkata, “Baiklah ya Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah sholat,
dan puncak keluhurannya adalah berjuang di jalan Allah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkantentang kunci dari kesemuanya itu?” Saya menjawab, “Tentu ya Rasulullah.” Beliau lantas memegang lidahnya seraya
berkata, “Peliharalah ini.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut atas apa yang kami katakan?” Beliaubersabda “Celaka kamu, bukankah wajah manusia tersungkur ke dalam neraka, tidak lain karena akibat lidah mereka?”
[HR. at-Tirmidzi].
Ukhtifillah..ini hanyalah sebuah nasehat buatmu, juga buatku… semoga kita senantiasa menjaga lisan-lisan kita, marilah menumbuhkan sikap tabayyun dalam diri kita, karena boleh jadi orang yang kita ghibahi ataupun kita fitnah, tidak ridho akan kelakuan kita dan akan menuntut perbuatan kita di hari Pembalasan Kelak… wal iya'udzubillah…
Dengan segenap rasa cintaku kepada kalian, aku minta maaf jika telah berbuat salah kepada kalian… sesungguhnya aku mencintai kalian karena alloh… semoga ukhuwah ini tidak akan pernah retak hanya karena sebuah lidah yang tak bertulang…wallohu a'lam
_serambi madinah 19 oktober 2009_
Ayo baca Lagi...
Sepucuk surat Buat Seorang kakak...

Sudah 4 tahun berlalu,
Saat aku melihatmu di sebuah musyawarah..
Tertawa, bercanda dan berbagai lontaran nasehat yang kau berikan kepada kami..
Mulai dari sana, aku ingin mengenalmu…
Menimba ilmu darimu..
Dan mendengarkan nasehat-nasehatmu…
Kuperkenalkan diriku kepadamu, dan kunyatakan bahwa ku"ingin" dekat denganmu…
Bukan sebagai satu-satunya orang yang kau sayangi
Tapi hanya sebatas teman diantara teman-temanmu yang lain..
Hari demi hari berlalu
Bulan pun berganti dengan bulan yang lain,,
Komunikasi terus berjalan denganmu,
Andai kau tahu betapa senangnya hatiku memiliki saudari sepertimu
Yang rela menegurku kapan saja jika terjatuh dalam kesalahan…
Rela mengangkat telpon dariku walau malam sudah semakin larut dan hanya mengatakan "kayfa haluki kak?""
Dan rela membalas sms-sms dariku, walaupun itu tidak terlalu penting…
Andai kau tahu betapa beruntungnya diri ini bisa mengenalmu, bisa dekat denganmu walau hanya lewat telpon dari jarak jauh…
Ketika kutahu bahwa kau telah menyelesaikan masa studi mu dan ingin segera kembali ke serambi madinah kita..
Rasanya hati ini begitu senang,,,hanya satu dalam pikiranku… "cari ilmu sebanyak mungkin denganmu"
Alhamdulillah, alloh memberikan nikmat itu kepadaku..
Kau ajari aku dengan ilmu yang kau dapatkan.. Tentang mustholatul hadits….
Walupun waktu itu sang matahari begitu memancarkan panasnya, tapi kau tak urungkan niatmu untuk mengajarku…
Kaupun memberiku berbagai macam buku yang begitu bermanfaat…
Tak ada kata letih saat kau mengajariku bahasa arab.. Bahasa yang sangat ingin ku kuasai…
Terima kasih, hanya itu yang bisa kukatakan..
Banyak hal yang kupelajari darimu,,
Teringat di masa lalu, saat kukeluhkan seorang akhwat yang sikapnya sedikit keterlaluan kepadaku,
Tapi kau hanya mengatakan "husnuzhon dek..mungkin akhwatnya lagi khilaf"
Dan diberbagai nasehat yang kau berikan padaku,, ah sungguh itu sangat berharga….
Jazaakillahu khairon katsiron buat semuanya…
Hari ini tepat pada tanggal 18 oktober 2009, di gedung itu, kaupun akan resmi menjadi istri seseorang…
Yang akan memulai kisahmu bersama sang pangeran hatimu…
Selamat buatmu kak..
Doaku untukmu.. Semoga menjadi seorang istri yang sholehah dan kelak bisa melahirkan seorang mujahid/mujahidah yang bisa menegakkan kalimat alloh di muka bumi ini…
Baarakallaahu laka wa baaraka 'alayka wa jama'a baynakumaa fii khair…
"teruntuk kakanda sekaligus guruku kak diana, selamat menempuh hidup baru…semoga pernikahannya bisa menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah wa rohmah…syukron katsiron wa jazaakillahu khairon atas kebaikan kk selama ini T.T, uhibbukifillah "
_Serambi madinah 18 oktober 2009_
Nb: 'afwan kalau tulisannya jelek dan amburadul, maklum orang baru belajar nulis,, ini hanyalah sebuah ungkapan hati dari seorang murid ^_^
Ayo baca Lagi...
Dan Alqur'an pun menjawab..
Kenapa aku diuji?
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?.Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(Qs.Al ankabut:2-3)
Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik?
216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Qs.Al baqarah:216)
Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Qs.Al baqarah:286)
Bolehkah aku frustasi?
139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. ( Qs.Ali imran:139)
Bolehkah aku berputus asa?
120. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Qs.Ali imran:120)
Kepada siapa aku berharap?
129. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung." (Qs.At taubah:129)
Aku tidak dapat bertahan lagi…
87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Qs.Yusuf:87
Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (Qs.At taubah:111)
Ayo baca Lagi...
Sebuah kisah tentang cadar...

Bismillahirrohmanirrahim…
cadar…
Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya.
"mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu" begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari'at alloh tentang cadar ini…
Sampai suatu ketika alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar,
"subhanalloh" satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu…
Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari'at dari islam..
Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit ku amalkan ilmu yang telah kudapatkan… pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar'I pun kulalui dan kuamalkan alhamdulillah..meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya,,tapi begitulah perjuangan..begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui..tapi untuk masalah cadar, ah. diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.
Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak
"kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar,nanti boleh bercadar kalau sudah nikah"
ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah , toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya alloh, untuk sekarang ga usahlah" pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan…
Manusia boleh berencana tapi alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita..
Alhamdulillah, hidayah alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus…
Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku…
"astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?" airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang "ngefans" tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah, belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll.
Lama diriku merenung.. "kenapa sampai ada yang terfitnah?? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah.." apa yang menyebabkan semua itu??apa???
Wajah... Ya inilah sumber dari fitnah itu..
Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..
Alhamdulillah alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari arab datang ke kota serambi madinahku buat memberikan dirosah..
Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya… syukron wa jazaakillahu khair buat kk yang membantu diriku saat itu…)
Kk : "adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya.."
Ustadzah: "kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya"
(kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia)
Hemm..ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah "ilmu sebelum berbuat",
yaa…aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah).. Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar… sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah wajib.. Tapi bagaimana dengan orangtua??
Inilah ujianku selanjutnya… aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sediki.. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku…dan ini berlangsung sampai beberapa hari...
Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku
"bapak ga mau lihat kamu pakai cadar" tiba-tiba suasana dirumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu)
bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan.. "bapak ga mau kamu pakai cadar.,!!!!" "apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar, kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!" "ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir..bla..bla..bla... ,
dan berbagai macam lagi perkataan bapak pada diriku saat itu".
aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz, tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut2an memarahiku dan melarangku..
Aku kaget , karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman2 ku yang bercadar, dan pikirku waktu itu ibu mungkin setuju2 saja pada saat aku bercadar… tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku… pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang kekamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan "ingat,,bapak ga mau kamu pakai cadar!!!"
ya alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar??pikirku dalam hati
Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar.. Menangis..menangis dan terus menangis.. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat dirumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu, ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan "sudahlah nak, nda usah menangis lagi.." tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar..
Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada alloh, namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!!.
teringat dengan kisah2 beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga 2 tahun lamanya, ada yang hampir diusir oleh orangtuanya, ada yang cadarnya dibakar…dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka..namun toh akhirnya Orangtua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..
"hey..kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja.. Apa ga ingat gimana perjuangan rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu, para shahabat bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri, dan kamu ingat sumayyah??? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya.. Sekarang lihat dirimu???kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari alloh,, kira2 ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? ataukah kamu adlah salah seorang musuh dari islam???" akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat, dalam sholat kubaca surah an nashr
"innama'al 'usri yusro..fainnama'al 'usri yusro"
rasanya keyakinan akan pertolongan alloh semakin dekat itu begitu kuat..ya pertolongan itu akan datang fikirku…
Sampai hari ketiga, keadaan dirumah masih tetap sama.. Ibu juga nenekku masih tatap memboikotku, dan aku masih saja berada dalam kamar dengan memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak..tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak, ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya…
"dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang, namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak.. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu.. "wahai ayahku..kutulis surat ini…..bla..bla..bla(afwan, lupa isi suratnya)".
Hemmm… tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku, tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar…
"assalamu'alaikum, pa kabarnya gimna??semoga bapak baik2 saja..maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar.. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari'at islam..dan yang saya pelajari bahwa istri2 nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam..bla..bla..bla….sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampaii 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms..jadi kalau mau dihitung..kira2 aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak…
Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak..tiba-tiba ada sms yang masuk ke hpku, tapi belum berani kubuka isinya..
Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyta adalah bapakku…
Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar..
Aku : "assalamu'alaikum"
Bapak "wa'alaikumsalam, lagi dimana nak???"
Aku: "di rumah pak, lagi di kamar.."
Bapak: "kamu masih nangis??"
Aku: "i..i..iya pak..(sambil menghapus airmata)
Bapak:"bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???"
Aku: "i..i..iyya pak.."
Bapak: "ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja, asal hati harus lembut ya nak…"
Aku: "hah??" (dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat)beneran pak??"
Bapak:' iya nak… mana mamamu??bapak mau bicara.."
Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar, dan ibu dilarang untuk melarangku bercadar.. masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirmkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku "ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya.." alhamdulillah..bapak benar2 mengizinkanku...
Dan akhirnya.. Bismillah… tepat tanggal 5 ramadhan aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku…
Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur diatas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti, dan di boikot oleh orang tua sendiri… yaa..akhirnya akupun memakainya..semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput..amin allohumma amin
"yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi 'ala diinik"
Serambi madinah,13 0ktober 2009
Ayo baca Lagi...
Menangis Untuk Adik
Mungkin saja artikel ini pernah Anda baca, ini saya ambil dari www. Jualanbuku.com. Kisah yang sangat menggugah, bercerita tentang Perjuangan Hidup, Keikhlasan, Pengorbanan, Cinta kasih dan banyak lagi.... Setiap kali membacanya, batin saya selalu tergugah dengan cerita ini.
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri ima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
yah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kkalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) .
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang ppenduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu.”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit.. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “KAKAKKU.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”
Kebaikan sekecil apapun akan memberikan manfaat bagi Anda dan orang yang membutuhkan. Berbahagialah memiliki teman dan saudara yang selalu mendukung Anda. Semoga berbahagia
_dari catatan seorang ukhti_
Ayo baca Lagi...
Nabi Tidak Pernah Bosan Beristighfar
Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al Fath: 1-2)
Dalam kitab shohih, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ . يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (HR. Muslim no. 7304)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Inilah kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pun tidak ada yang menyamainya. Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”
Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ فِى لِسَانِى ذَرَبٌ عَلَى أَهْلِى لَمْ أَعْدُهُ إِلَى غَيْرِهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-
“Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. Kemudian aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ يَا حُذَيْفَةُ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Mana istigfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya aku selalu beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-Nya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sabda Nabi ‘…إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ’ adalah shohih lighoirihi yaitu shohih namun dilihat dari jalur lainnya yang lebih kuat atau semisal dengannya. Sedangkan sanad hadits ini dho’if)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)
Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,
رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
‘Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 556)
Dan bacaan istighfar yang paling sempurna adalah penghulu istighfar (sayyidul istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istighfar adalah apabila engkau mengucapkan,
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta [Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau].” (HR. Bukhari no. 6306)
Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dari lanjutan hadits di atas,
وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ »
“Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”
Hadits sayyidul istigfar ini meliputi makna taubat dan terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam hadits ini juga terkandung kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar lainnya karena keutamaan yang dimilikinya. –Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-
Bacaan istigfar lainnya adalah sebagaimana terdapat dalam shohih Bukhari dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika menjelang kematiannya) sedang bersandar padanya. Lalu beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَأَلْحِقْنِى بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang sholih.” (HR. Bukhari no. 5674. Lihat Al Muntaqho Syar Al Muwatho’)
Jadi lihatlah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang setiap waktunya selalu diisi dengan istighfar bahkan sampai akhir hayat hidupnya pun beliau tidak lepas dari amalan tersebut. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengakhiri amalan-amalan sholihnya seperti shalat, haji, shalat malam dengan istigfar, beliau juga mengakhiri hidupnya dengan istigfar.
Saudaraku… Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)
Semoga Allah mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (www.rumaysho.com)
www.muslim.or.id
Ayo baca Lagi...