Ibu...
Aku terlahir dari rahimmu yang mulia
Dan tumbuh menjadi seorang gadis seperti yang engkau lihat sekarang ini
Izinkan aku menyampaikan terima kasihku padamu
Untuk semua cinta yang tercurah padaku
Untuk segala kasih yang terlimpah bagiku
Untuk waktu yang tersisa dalam mendidikku
Ibu...
Kusadari, betapa banyak goresan luka hatimu karenaku
Betapa banyak derita menimpamu ketika membesarkanku
Namun aku.... anakmu
Masih terus menggores luka itu dengan kata-kata pahit
Aku...
Masih saja membuatmu menangis dengan tingkahku yang kasar dan angkuh
Masih memberimu luka, sebab banyak inginmu yang tak kuturuti
Masih.... dan masih saja
Menumpuk beban di usiamu yang tak lagi muda
Ibu...
Dalam dekapan lembutmu
Aku menemukan kasih sayang
Dalam teduhnya senyumanmu
Aku menemukan kesejukan
Dalam hangatnya dekapanmu
Indahnya dunia mampu kurasakan
Dengan cintamu, hatiku yang galau menjadi tenang
Risauku terobati dengan perhatianmu
Ibu...
Tak pernah engkau keluhkan lelah dan payahmu
Sejak mengandungku, engkau telah menderita
Namun engkau senantiasa bersabar
Selalu menjaga kesehatanmu demi pertumbuhanku
Engkau berjuang mempertaruhkan nyawa
Merasakan sakit yang begitu sangat demi aku
Merasakan lelah yang tak terperih
Agar aku dapat hadir menyapa dunia
Aku tahu, kini saat kudewasa
Apa yang kau lihat pada diriku,
mungkin tak sesuai di matamu
Pakaianku, kain penutup wajahku, penampilanku, sikap dan tingkah laku-ku yang
berbeda dengan wanita pada umumnya
Dan hal itu sering membuatmu sakit dan kecewa
Ibu...
Tahukah engkau bahwa aku teramat ingin
membalas jasa yang engkau ukir dalam hidupku
Meski tak ada materi yang dapat membalas pengorbananmu
Tak ada kata-kata yang mampu mewakili rasa terima kasihku untukmu
Tak ada pena yang dapat menulis syair seindah kasih sayangmu
Tak ada ibu...
Tak ada...
Tapi, dengan segala kelemahan dan keterbatasanku
Aku ingin mempersembahkan sebuah kebahagiaan untukmu
Aku ingin memberikan semua hal terindah bagimu
Aku ingin memberimu balasan terbaik yang mampu kulakukan
Meski mungkin tak kau pahami
Tapi... ibu... sungguh, aku hanya ingin memberimu sebuah rumah di surga
yang kekal tanpa keletihan dan kesedihan di dalamnya
Ibu...
Ketika aku ingin meraih surga
Ternyata jalannya begitu sukar dan berliku
Sering aku merasa lelah dan tak berdaya
Lalu aku berhenti sejenak dan berfikir
Haruskah kuhentikan perjalanan ini?
Haruskah aku berhenti meraih syurga yang kekal
berpaling darinya demi dunia yang fana?
Atau... haruskah aku berhenti untuk esok yang mungkin tak lagi kutemui?
Karena aku tak pernah tau, kapan, dimana dan bagaimana hidupku berakhir
Ibu...
Kurasakan jalan menuju syurga itu begitu berat
Hingga kaki-ku tak mampu melangkah sendiri
Aku membutuhkanmu ibu
Tuk memberiku semangat ketika asaku putus
Tuk memberi nasehat ketika aku salah
Memberiku sudut pelarian tatkala semua orang tak menerimaku
Karena aku tahu
Pelukanmu tak pernah tertutup untuk aku anakmu...
Ibu...
Ingatkah engkau di kala tangisku membangunkanmu di tengah malam-malammu
Diantara mimpi indah tentang aku yang tumbuh menjadi anak yang berbakti
Dari wajahmu, terlukis harapmu pada aku...anakmu
Doamulah yang dapat menjadikanku anak yang sholehah
Ibu...
Bantu aku menjadi sholehah seperti Fathimah, putri Rasulullah
Izinkan aku menjadi anak yang beruntung karena do'amu yang terkabul...untukku
Ibu...
Terlalu lama kutinggalkan dirimu untuk menuntut ilmu
Belum habis rindumu padaku
Kini, aku harus meninggalkanmu
Mungkin, selama ini engkat bertanya-tanya
Apa yang dilakukan anakku di luar sana?
Sibuk dari pagi hingga senja
Ketahuilah ibuku sayang...
Sesungguhnya aku tengah menempuh perjalanan ke syurga
Perjalanan ini kulewati agar kita bersama di JannahNya
Ibu...
Aku tinggalkan dirimu bukan karena tak sayang
Aku pergi merantau bukan karena tak ingin dekat denganmu
Tetapi ibu...
Ku ingin menggapai ridho Ilahi
Beserta ridhomu di jalan ini
Yang dengannya hakikat hidup kudapatkan
Di sini, di jalan dakwah ini, ku semai cintaku padamu
Hingga ia akan berbuah surga untukmu
Dan akan ingin terus berada di dalamnya
berjuang... hingga akhirnya Allah memanggil untuk hari tanpa akhir
Aku membutuhkanmu ibu...
Aku membutuhkanmu ibu...
Membutuhkan dukunganmu
Ibu...
Izinkan aku mengajakmu ke Istana Surga milikNya
Ibu...
Mari bersama menggapai surgaNya
*dibacakan dalam kegiatan "Silaturrahim Akbar Orang Tua Muslimah, Ahad 8 Juli 2007"
Ayo baca Lagi...
Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah. (HR .Muslim)
Untaian Harapan Untuk Ibuku...
Ukhti..Uhibbukifillah...
Saat aku terjatuh engkau senantiasa berusaha membuatku bangkit
Saat aku tersenyum, engkau pun tersenyum dengan indah
Saat aku bersedih, engkau senantiasa menghiburku
Dan saat aku melakukan kesalahan, engkau senantiasa menegurku…
Tidak mengenal waktu, tempat, kapan dan dimana
Engkau selalu siap siaga membantuku
Engkau selalu membantuku disaat aku kesulitan
Engkau selalu ada saat aku membutuhkanmu
Ukhtifillah..
Kutahu diriku dan dirimu tidak lahir dari rahim ibu yang sama
Namun, persaudaraan yang kita jalin, sungguh melebihi dari persaudaraan kandung…
Engkau menjalin persaudaraan denganku bukan karena melihat pintar atau bodohnya aku
Bukan karena melhat cantik dan jeleknya diriku
bukan karena melihat kaya atau miskinnya keluargaku..
Tapi, engkau dan diriku bersaudara hanya karena satu alasan….
Yaa… Fillah..karena Alloh…
Ukhtifillah…
Kuingat diriku yang penuh kekurangan ini..
Saat aku berdiri dihadapanmu dengan segudang masalah yang kuhadapi..
Kutampakkan wajah kusamku di hadapanmu..
Tapi, dirimu begitu sabar menghadapiku…
Wajah masamku tak membuatmu berhenti untuk tersenyum padaku dan mengatakan
"ukhti, senyum dulu dong…"
Walaupun bibir ini teramat sulit untuk tersenyum di saat itu
Tapi hati ini begitu bahagia..bahagia karena engkau senantiasa menghiburku..
Ukhtifillah…
Jika boleh diri ini meminta…
Aku mohon kepadamu..
Jangan pernah menjauh dariku
Tetaplah bersamaku dalam menghadapi ujian di jalan dakwah
Jangan pernah berhenti menasehatiku jika berbuat kesalahan
Dan maafkan diriku jika pernah membuatmu terluka…
Ukhtifillah…
Ku ingin berada di mimbar cahaya kelak bersamamu…
Ku ingin meraih syurga dengan dirimu…
Karena sungguh..ku mencintaimu karena alloh….
"serambi madinah 23 mey 2009... saat rihlah^_^"
Ayo baca Lagi...
Rihlah...Oh...Rihlah...
.jpg)
Sejenak melupakan masalah-masalah di kampus, rasa sakit hati, kenangan bersama ade ghina, dan tentu saja tugas-tugas yang menumpuk….
Hmmm…hari ini waktunya untuk hang out bareng saudari-saudariku tercinta..
Kumpul, makan, main, bercanda dan tertawa bersama, apalagi kalau bukan Rihlah…
Aku naik angkot menuju ke rumah salah seorang akhwat, rumah yang disepakati untuk berkumpul agar bersama-sama menuju ke tempat rihlah..
Akhirnya, setelah 2 jam menunggu…
Brmmm….brrmmmmm…
Angkot yang disewa pun berangkat ke tempat tujuan…
Huhui…rihlah..rihlah…dirimu selalu kunantikan..heheheheh
Sampai di tempat tujuan akhwat melakukan pengarahan dulu, agar ada peraturan-peraturan yang musti ditaati akhwat, oya tak lupa pembagian kelompok untuk games-games yang akan dimainkan…
Hah?salah satu permainan adalah "membuat rujak" wah lezat niyh…hihihih nggak sabar buatnya…
Eh, ternyata setelah kupandangi wajah-wajah saudariku. Banyak yang tidak ikut karena sakit..(huaaa….syafakillah ukh...ketidakhadiranmu sungguh membuat kegiatan ini kurang semarak)
Let's play games….
Yaa…akhirnya bermain bersama akhwat…hihihih..seru..seru..seru…!!!
Pokoknya semua beban-beban yang berada di pundak ini sampai-samapai membuat kepala pusing 7 keliling, setidaknya hilang sementara waktu ketika melihat keceriaan-keceriaan saudariku…(ukhti..ukhti…pokoknya hari ini senang…..!!!!)
Alhamdulillah…dalam satu permainan kelompoku menjadi juara….
Eh,ternyata waktu dhuhur sudah masuk, bergegas akhwat membersihkan diri dan sholat dhuhur berjama'ah….
Sekarang apa lagi ya???
Hmmm..karena makanan belum datang, kita lanjut saja lomba bikin rujaknya..
Tiba-tiba, salah seorang akhwat ngomong "eh, makanan dah datang"
Alhamdulillah datang juga tuh makanan (walaupun lomba rujak yang paling ditunggu, tapi kalau perut belum diisi dengan makanan andalan(apalagi kalau bukan nasi)pasti deh perut jadi sakit…hehehhehe)))
Segera akhwat mengambil makanan, walaupun makanannya tak selezat makanan ummi di rumah tapi kebersamaan akhwat bisa menggantikan rasa makanannya.
Duduk sambil makan bersama sama akhwat di lantai yang dingin, wah merupakan moment yang paling kutunggu-tunggu…
Setelah makan, masuk ke agenda berikutnya…
Taujihad dari seorang kakak…
Rihlah, musti diisi juga dengan sesuatu yang bisa membakar semangat dakwah agar terus berkobar dalam dada(cieee…kata-katanya..hihihih), walhasil, pastilah dalam setiap kegiatan ada taujihad….
Materi yang dibawakan kakak hari ini adalah "menengok sejarah perjuangan Rosulullah shallallhu 'alaihi wa sallam".. Masyaa alloh, semangat kami tumbuh lagi dalam memperjuangkan agama alloh setelah mendengar materi ini…semangat!!semangat!!!!
Allohu akbar..allohu akbar….
Eh, terdengar bunyi adzan..
Hmmm,,,kamipun segera sholat ashar berjama'ah..
Kurang lebih jama 4 sore, ternyata angkot yang tadi di sewa sudah datang menjemput untuk pulang...
Waduh, gimana nih, padahal agenda yang paling ditunggu-tunggu belum terlaksana???
"suruh pak sopirnya nunggu, sekalian kasih makanan dan es buah" kata seorang akhwat…
alhamdulillah games terakhir bisa terlaksana..
Bahan-bahan semua sudah siap..eh anggota kelompokku mana???
Oh, ternyata sudah kumpul semua..
Salah seorang akhwat yang jadi juri mengatakan kalau lombanya sudah dimulai…
Aku kebagian ngupas buah,, akhwat yang lain motong-motong buah, ada juga yang buat bumbu rujaknya…
Hmmm….lezat juga nih buahnya…
Ada jeruk bali, mentimun, mangga dan kedondong…
Eits..ngomong-ngomong soal mangga dan kedondong..
Salah seorang teman kelompokku tiba-tiba membuat sebuah pantun untuk membuat akhwat diam karena saking berisiknya membuat rujak…
"buah mangga buah kedondong…jagan ribut dong"
Sontak saja 1 ruangan menjadi tertawa karena mendengar pantun akhwat tadi…(hihihhi,, pantunnya standar sih ukht,,,udah itu ga nyambung, hahahahhaha)
2 menit lagi waktu habis…
Zap..zap..zap…
ayo cepat..waktu tinggal sedikit…
Akhirnya selesai juga nih rujak kita…
Deg..deg..deg…waktu pengumuman pemenang lomba sebentar lagi..
Oya, kelompokku itu kelompok 3 (sekedar info.. Hahahahaha)menjelang pengumuman, aku dan salah seorang temanku optimis menang dan mengatakan…
"buah mangga buah kedondong, kelompok 3 pasti menang dong…"(hahahahah, ga nyambung..ga nyambung…udah itu super duper narsis….)
"Juara 3 adalah kelompok……"
Eh, yang juara 1 dulu…
Hmmm…..
Ternyata..yang juara 1 adalah kelompok……3….
"hah? Kelompokku,,,alhamdulillah…heheheheh, ga sia-sia juga buat pantun yang aneh dan paling standar…hihihiihi"
Kami pun dapat hadiah..
Hadiah kecil yang cantik yang bisa mengingatkan kami akan rihlah hari ini…
Pulang..pulang….
Yaa..siap-siap pulang..
Beres-beres, nyapu sana-sini, benerin jilbab terus pulang….
Eh, sebelum pulang salah seorang akhwat membacakan sebuah nasihat yang terdapat di sebuah kertas…
"ketika tali semakin menegang, tak lama lagi tali itu akan putus…
Ketika gelap semakin pekat tak lama lagi fajar kan terbit…
Ketika masalah semakin menghimpit, tak lama lagi jalan keluar kan datang….
Sungguh setelah kesulitan ada kemudahan…"
Tiba-tiba teringat masalah-masalah yang kualami yang belum ada jalan keluarnya..tapi ketika akhwat membaca penggalan ayat dalam alquran.."sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan" yaa..janji alloh pasti benar!!!aku pun menjadi tenang kembali...
Ya alloh terima kasih karena engkau memberiku saudari-saudari yang senantiasa menasehatiku..
Makasih ya alloh..makasih…
Tepat pukul 5..akhwat pun naik angkot menuju pulang..kami saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan hari itu….
Rihlah yang sungguh indah…
Tidak akan terlupakan…
Makasih saudari-saudariku..
Makasih untuk kebersamaaan dan keceriaan ini
Sungguh ku mencintai kalian karena Alloh…
"serambi madinah 24 mey 2009 di ruang kelas, saat mengingat peristiwa rihlah kemarin…."
Ayo baca Lagi...
Dik, kami merindukanmu….
Sudah beberapa hari berlalu semenjak kepergiannya..
Namun, masih terasa hangat senyum yang menempel di wajahnya..
Belum bisa terlupakan keceriaan yang dibawanya…
Suatu ketika, aku melihat sebuah album foto, tiba-tiba terlihat foto seorang gadis manis dengan senyumnya yang sangat indah..
Seorang gadis yang baru beberapa hari pergi meninggalkan kami…
Senyumnya begitu indah, seakan membuat diri ini belum percaya bahwa dirinya telah tiada…
Tiba-tiba tubuh ini menjadi lemas..
Hati ini menjadi sakit..
Dan airmata ini serasa ingin tumpah kembali saat melihat manisnya senyumnya…
Senyum yang kini hanya bisa dilihat lewat selembar kertas foto..
Senyum yang tidak bisa lagi dilihat secara langsung dari diri seorang "ghina"..
Kami begitu merindukanmu dik...
Begitu teramat merindukanmu...
Tapi, inilah takdir alloh, yang alloh tetapkan 50.000 tahun yang lalu sebelum bumi diciptakan..
Sedih??? Pasti..
Bahkan teramat sangat sedih jika ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi…
Tapi, kita tak boleh terus begini..
Tak boleh larut dalam kesedihan..
Tidak boleh!!!
Jika masih terus menerus larut dalam kesedihan…
"ghina" mungkin juga akan sedih melihat keadaan kita…
Tidak ada gunanya terus menerus bersedih..
Yang musti kita lakukan adalah berdo'a dan berdo'a..
Moga alloh melapangkan kubur adindaku Ghina dan menempatkannya di jannah firdaus bersama para nabi dan rosul serta orang-orang yang sholih..aminn..allohumma amin..
"serambi madinah…sesaat setelah melihat foto adinda ghina"
Ayo baca Lagi...
Selamat Jalan Adinda....
"dia sudah meninggal..."tiba-tiba makanan yang kukunyah terasa hambar, nafsu makanku pun hilang seketika saat mendengar kabar bahwa adik yang telah dirawat di rumah sakit hampir 2 bulan telah tiada... telah pergi meninggalkan kami...
baru 2 hari yan lalu aku menjenguknya, waktu itu keadaannya sudah sangat lemah, namun kami tetap optimis bahwa dia akan segera sembuh..segera berkumpul bersama kami dalam majelis ilmu...
tapi...
takdir alloh berkata lain...
tak ada yang bisa merubah keputusan alloh...
dia telah pergi...
pergi untuk selamanya..
pergi meniggalkan dunia yang fana ini...
pergi meninggalkan kami disini yang sangat menyayanginya...
pergi menuju tempat yang abadi...
senyum..
canda..
dan tawanya kini hanya tersimpan dalam memori kami sebagai kenangan yang terindah..
kenangan yang tak mungkin bisa terlupakan sampai kapanpun juga...
di usiamu yang begitu muda, terlihat semangat yang besar untuk menuntut ilmu alloh..
engkau beda dengan anak-anak seumuranmu..
engkau beda dengan mereka yang hanya menghabiskan masa mudanya hanya untuk melakukan kemaksiatan..
engau berbeda adinda,,
engkau gadis yang cerdas, cantik, dan penuh semangat dalam menuntut ilmu...
sungguh, kami begitu menyayangimu...
hari ini, malaikat alloh menjemputmu untuk membawamu ke tempat yang kekal..
suatu hari kami pun akan menyusulmu...
pasti...dan pasti terjadi..
selamat jalan adindaku sayang...
selamat jalan adindaku tercinta...
kami akan terus mendoakanmu..
mendoakanmu, agar engkau berada di jannahNya, bersama para nabi dan rosul serta orang-orang yang sholih...
ku kecup keningmu untuk yang terakhir kali...
sebagai tanda perpisahan kita di dunia...
namun, kelak kita akan bertemu kembali..insyaa alloh...
selamat tinggal adindaku..
selamat tinggal..
kelak, insyaa alloh diriku dan dirimu serta teman-teman yang lain akan bertemu, berkumpul, tertawa, bercanda bersama di jannah Alloh yang abadi...
amin..allohumma amiin...
"untuk adindaku gina....selamat jalan...kami sungguh mencintaimu karena Alloh..."
Ayo baca Lagi...
Karena syurga tidaklah mudah untuk diraih...
Jalan dakwah..jalan yang dilalui para nabi dan rosul, jalan yang ditempuh oleh 3 generasi terbaik untuk memperjuangkan agamaNYa.. Kata orang,jika melalui jalan ini, kita akan mendapatkan cobaan dan ujian yang sangat besar dari berbagai pihak.. Dari masyarakat, tetangga, teman, guru, sahabat bahkan orang tuapun terkadang turut andil untuk membuat kita meninggalkan jalan ini..
Entah kita dimarahi, dicuekin, dicemooh bahkan sampai dikucilkan oleh orangtua sendiri, karena apa yang kita lakukan menurut syari'at islam bertentangan dengan kebiasaan dan adat istiadat orang tua kita…
Takut? Cemas? Khawatir? sedih? Yaa..tentu saja, secara fitrah pasti seorang manusia tidak ingin mengalami rasa takut, sedih, cemas dan khawatir dalam hidupnya..namun, sebuah keyakinan muncul di hati, sebuah komitmen tertanam kuat dalam dada ketika membaca janji alloh dalam surat cinta alloh buat para hambaNya yaitu alqur'an..
Janji alloh pasti benar!! Itulah yang menjadi keyakinan para aktivitis dakwah dalam melewati jalan ini..
Apa sebenarnya janji alloh itu? Yaa..jannah..jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, yang kenikmatannya tidak pernah terpetik dalam pikiran, tidak pernah dapat dibayangkan dan jauh melebihi kenikmatan yang kita rasakan di dunia.
Jannah yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, sungai-sungai yang isinya adalah madu dan susu..
Jannah yang di dalamnya terdapat bidadari-bidadari,
dan jannah yang…
ah, kalian bisa bayangkan sendiri kenikmatannya yang tidak bisa kita dapatkan di dunia.
Tapi suatu hal yang perlu kita ketahui, bahwa untuk mendapatkan sebuah kenikmatan yang abadi, semuanya tidak dapat didapat dengan gratis. Butuh pengorbanan yang sangatlah besar, tenaga, harta, pikiran bahkan perasaan kita musti kita korbankan untuk mendapatkan kenikmatan syurgawi tersebut..
Bisa kita baca dalam siroh-siroh perjuangan para sahabat yang rela mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk mendapatklan kenikmatan tersebut.sebut saja seorang shahabiyah bernama sumayyah. Seorang wanita yang syahid pertama dalam islam, kita ketahui dalam siroh beliau, bagaimana akidah yang begitu kuat sudah tertancap dalam hatinya, sehingga apapun usaha-usaha orang-orang kafir pada zaman tersebut untuk mengeluarkannya dari islam tidak membuat dirinya goyah sedikitpun. Siksaan demi siksaan dia dapatkan, bahkan puncaknnya adalah beliau ditusuk dari ujung kepala hingga tembus ke duburnya dengan sebuah besi hingga ajal menjemputnya..rasa sakit, kepedihan yang dia rasakan tidak membuatnya gentar untuk terus berjalan di jalan alloh, karna dia yakin akan janji alloh yang benar…
Kita juga sering membaca, bagaimana seorang nabi alloh, seorang kekasih alloh rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mendapatkan ujian dari orang-orang pada zamannya, beliau ketika ingin menegakkan kalimat alloh, bukan hanya predikat"gila" yang beliau terima, namun..pukulan bahkan lemparan batu yang membuat kaki beliau bersimbah darah, sungguh membuat hati ini begitu teririis ketika sang idola diperlakukan seperti itu,
tapi itulah perjuangan..
perjuangan dalam membela agama alloh..
perjuangan yang membutuhkan konsekuensi yang sangat amat besar…
Sekarang, kita lihat diri kita…tanyakan pada diri kita..apakah cobaan dan ujian yang di dapatkan para shahabat sama seperti yang kita hadapi?? Apakah perjuangan rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dilempar batu dalam menegakkan kalimat tauhid telah kita rasakan di zaman ini?? Tidak..sekali-kali tidak wahai saudariku..
Sekarang kita hanya merasakan cobaan berupa cacian, cemoohan dan pandangn yang sinis dari orang-orang sekitar kita.
Kita belum mengorbankan seluruhnya,,,
belum mengorbankan seluruh harta dan jiwa kita untuk berada di jalan dakwah…
Kita belum bisa menyaingi perjuangan para shahabat…
Darah kita belum mengalir ketika melalui jalan ini…
Kita belum merasakan sakit yang dirasak sumayyah hingga maut menjemputnya..
Belum..belum saudariku….
Kita baru mengorbankan sedikit harta kita,,,
Baru meneteskan beberapa keringat..
Baru mendapatkan cemoohan yang hanya membuat hati sakit..
Lantas..apakah kita sudah layak mendapatkan jannah alloh??
Layakkah??
Tanyakan pada diri kita masing-masing..
Kita tidak mungkin menyaingi perjuangan para sahabat dalam membela agama alloh,
Namun, kita hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membuat ummat islam kembali ke jalan yang diridhoi alloh dengan menjadi seorang aktivitis dakwah yang tidak kenal lelah dalam memperjuangkan dien Nya..
Semoga diriku dan dirimu, temasuk orang-orang yang mendapatkan kenikmatan yang kekal itu..
Kenikmatan tanpa batas..
Jannah alloh…
Aminn..allohumma amiin…
"serambi madinah, senin 11 mey 2009. dalam perjalanan pulang ke rumah tercinta"
Ayo baca Lagi...
Kemana senyum manismu adinda???
"assalamu'alaikum..kak afwan, saya minta izin tidak pergi tarbiyah, karena saya kena kanker ganas, tolong doakan saya supaya cepat sembuh supaya bisa tarbiyah lagi. Syukran kak."
Kira-kira seperti itulah bunyi sms yang masuk dalam inbox hpku sekitar 2 bulan yang lalu dari seorang adik.. Seorang adik yang terkenal ceria dan penuh semangat dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang anak SMP..
Sudah 2 bulan ini, kami kehilangan canda dan tawanya…
Sudah 2 bulan ini tarbiyah kami sepi dengan gurauan-gurauan manisnya..
Sudah 2 bulan ini kami tak lagi mendengarnya menyetorkan hafalan alqur'an..
Semua disebabkan karena dirinya masih berjuang melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya…
Hari ini, pertama kali aku menjenguknya di rumah sakit disebabkan karena kesehatanku yang juga agak terganggu sehingga baru sempat menjenguknya.
Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar kalau adik ini penyakitnya semakin parah dan musti dirawat di ruang ICU. Aku pun melangkahkan kakiku untuk menjenguknya bersama salah seorang kakak dan teman-teman tarbiyah adik itu…
Sesampai di rumah sakit, aku masuk ke ruang ICU, karena di ruangan ICU tidak boleh dimasuki oleh banyak orang, akhirnya kami bergantian masuk, aku mendapat giliran yang pertama masuk..
Ketika aku masuk, terlihat seorang adik yang sangat berbeda..beda dengan adik yang pertama kali kulihat sekitar 2 bulan yang lalu…
Dirinya duduk tertunduk lesu dengan beberapa selang yang berada di tubuhnya, dia memakai alat bantuan pernafasan, rambutnya yang dulunya begitu subur, kini rontok satu persatu…dengan suara yang sangat lemas, dia meminta bantuan dokter untuk mengambilkannya sesuatu…
Kutatap dia dengan wajah yang sangat sedih dan kusapa dirinya..
"dek, masih ingat kk? Bagaimana perasaannya de?"
"iya kak,, panas..panas.." walaupun dengan suara yang begitu lemas dan hampir tidak terdengar, dia masih menyempatkan dirinya menjawab pertanyaanku bahwa dia masih mengenaliku..
Kupandangi dirinya beberapa menit dan aku pun mulai mengingat awal kali aku bertemu dengannya..
Seorang anak dengan wajah yang ceria, senyum yang indah, tubuh yang sehat dan semangat yang membara dalam menuntut ilmu..
Tapi sekarang…
Kemana wajah ceria itu??
Kemana senyum indah itu??
Kemana semangat yang membara itu??
Kemana??
Sebuah penyakit membuat semuanya hilang..hilang…hingga membuat dirinya begitu berbeda…
Aku pun keluar dari ruangan tersebut, karena masih banyak teman-temannya yang lain yang ingin melihatnya. Sebelum keluar ku katakan padanya..
"de, cepat sembuh ya, rajin minum obat..ntar kalau dah sembuh kita tarbiyah lagi.."
"iya kak" dia menjawab dengan nada yang lesu…
Teman-temannya pun bergantian masuk menjenguknya. Setiap salah seorang dari mereka keluar, air mata mereka tak kuasa mereka bendung..
Sedih melihat keadaan saudarinya..
Rindu ingin melihat saudarinya berkumpul bersama..
Tertawa, bercanda, bergurau..semua mereka rindukan dari seorang saudari yang masih berada di dalam kamar tersebut melawan penyakitnya…
"kak..dia begitu kurus, rambutnya rontok, dia begitu lemas kak..padahal waktu terakhir aku lihat dia tidak sekurus itu.." salah seorang adik menyampaikan perasaaannya padaku sambil mengusap air matanya ketika selesai melihat temannya..
Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar dari seorang teman. Waktu itu si adik belum masuk ke ruangan ICU. Ketika salah seorang temannya datang menjenguk..si adik yang sekarang berada di ruang ICU itu menyapa teman yang menjenguknya sembari mengatakan "ukhti, masih kenal sama ana kan?"(itu dia katakan, karena tubuhnya yang sudah mulai melemah, dan rambutnya pun sudah mulai rontok sehingga dia merasa temannya sudah tidak mengenalinya lagi) teman yang menjenguknya begitu sedih mendengar kata dari saudarinya tercinta, dia pun tak kuasa menjawab pertanyaannya dan langsung keluar kamar dan menangis tersedu-sedu..
Tak ada yang bisa kami lakukan selain berdo'a, berdo'a dan berdo'a..semoga adikfillah diberi kesembuhan oleh alloh dan kembali ceria seperti dulu lagi…
Amin..allohumma amiin…
"teruntuk adindaku tersayang "ghina" yang masih berjuang melawan penyakitnya… semoga lekas sembuh adik…agar kita bisa tarbiyah lagi, bercanda, tertawa, tersenyum, dan menghafal alqur'an bersama teman-teman yang lain..karena kami sangat merindukan kehadiranmu… syafahallahu wa laba'sa thahurun insyaa alloh"
"serambi madinah 12-mei-2009 saat menunggu di sebuah ruangan dokter…"
Ayo baca Lagi...
Renungan untuk tidak berfikir picik
Oleh: Ustadz Muh. Ihsan ibnu Zainuddin, Lc.
SAYA bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya hidayah untuk meyakini bahwa Islam yang benar hanya dapat dipahami dan diamalkan sebagaimana manhaj para As-Salaf Ash-Shaleh. Saya juga bersyukur karena Allah juga memberikan rasa cinta dalam hati saya kepada generasi terbaik itu.
Walaupun saya tak pernah bisa benar-benar sama dengan mereka (dan tak akan pernah sama), bahkan menyerupai pun rasanya jauh. Apa sih yang dapat kita lakukan di zaman yang penuh fitnah ini, selain berusaha meperkecil perbedaan kondisi pribadi kita (dalam hal aqidah, ibadah, mu'amalah dan akhlak) dengan kondisi keseharian kaum salaf ?
Di zaman ini, pengakuan diri sebagai seorang salafy mungkin hanya bisa diterjemah-kan sebagai kesalaf-salafan saja, atau berusaha untuk menyerupai kaum As-Salaf Ash-Shaleh saja. Dan itu sekali lagi amat berat. Jika ada yang merasa lebih dari itu, merasa diri benar-benar pas dengan kehidupan kaum As-Salaf Ash-Shaleh, maka menurut saya ia hanyalah orang yang tertipu oleh dirinya sendiri.
Kita sekarang ini hanya dapat menghibur diri dengan pesan Nabi shallallahu 'alaihi wassalam"Seseorang itu (kelak di akhirat) akan bersama dengan orang yang ia cintai."
Mudah-mudahan dengan kecintaan pada generasi As-Salaf Ash-Shaleh, kelak kita akan bersama-sama mereka di surga. Semoga.
Dan sejak mengenal manhaj salaf sebagai satu-satunya metode yang benar dalam memahami Islam, saya pun merasa tersejukkan setiap kali mendengar apapun mengenai manhaj ini dan para pejuang-pejuangnya. Saya begitu yakin, bahwa manhaj salaf adalah Islam itu sendiri.
Ya, ia adalah penjelasan, penjabaran, dan gambaran tentang Islam itu sendiri, yang begitu lengkap, menyeluruh dan mencakup seluruh aspek ke-hidupan.
Sejak awal, saya telah meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang indah dan menyejukkan. Maka dalam hati saya pun terpatrilah keyakinan bahwa manhaj salaf pun pastilah sebuah manhaj yang indah dan me-nyejukkan.
Itulah keyakinan saya hingga kini dan Insya Allah akan menjadi aqidah saya hingga maut datang menjemput. Ya Allah, kabulkanlah!
Oleh sebab itu, saya sangat sedih bila ada sebagian pejuang Da'wah Salafiyah yang justru membuat keindahan dan kesejukan manhaj salaf itu ter-nodai, hanya dikarenakan pemahaman yang tidak benar, bahkan cenderung picik terhadap manhaj yang agung ini.
Hanya mengambil sepotong-sepotong, lalu melakukan penyerangan ke sana ke mari. Dan yang lebih hebat lagi, penyerangan itu disertai nukilan-nukilan dalil dan pendapat para ulama yang tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya, ditambah dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar.
Akibatnya, perpecahan-yang nota bene merupakan salah satu tanda pokok ahlul bid'ah- justru menjadi fenomena yang tak asing lagi di kalangan orang-orang yang mengaku berjuang di atas manhaj salaf.
Bahkan tidak sekedar berpecah. Mereka juga saling menyerang, menuduh dan me-nuding. Maka anda dapat me-nyaksikan betapa banyak murid-murid yang dengan penuh gagah berani menyerang (bekas) ustadznya. Padahal sang ustadznya lah yang memperkenalkan manhaj salaf kepada mereka.
Dan yang lebih lucu lagi, muncul fenomena bantah mem-bantah via kaset. Bila seseorang membuat tahdzir terhadap si fulan dalam 3 kaset, maka tunggulah bantahan si fulan dalam 5 kaset.
Siapapun yang melihat ini akan tertegun heran. Para ahlul bid'ah akan bersorak-sorai melihat pertarungan antar pejuang Ahlus sunnah. Namun saya sangat sedih. Inikah yang diwariskan oleh generasi As-Salaf Ash-Shaleh ? begitulah bunyi pertanyaan yang hingga kini selalu merisaukan hati saya.
Pertanyaan itu terus menggelora, hingga saya menyimpulkan (sesuai kapasitas ilmu saya yang masih sedikit) bahwa nampaknya ada kesalahan dalam memahami manhaj ini.
Dalam manhaj Ahlus sunnah, perbedaan pendapat tidaklah identik dengan perpecahan. Semuanya pasti mengetahuinya. Namun tidak banyak yang benar-benar faqih dan santun menerapkannya. Terkadang masalah ijtihadiyah dijadikan sebagai pangkal perpecahan. Hanya karena satu masalah yang para ulama besar pun berbeda pendapat di dalamnya, seseorang begitu mudah mengeluarkan saudaranya dari lingkaran ahlus sunnah wal jama'ah.
Padahal generasi As-Salaf Ash-Shaleh, telah mewariskan kepada kita Adab Al-Khilaf (adab dan etika berbeda pendapat). Seperti ditunjukkan dengan sangat indah oleh Imam Syafi'iy kepada salah seorang lawan diskusinya, yang tidak lain adalah muridnya sendiri, "Tidak pantas kah kita tetap bersaudara, walaupun kita berbeda pendapat dalam beberapa masalah?" Dan Beliau mengucapkannya seraya menggenggam tangan muridnya itu. Alangkah indahnya jika para pejuang Da'wah Salafiyyah kita bisa seperti itu.
Yang menyedihkan, sebagian anak-anak muda (ikhwan maupun akhwat) yang baru kemarin sore belajar manhaj salaf sudah berani melemparkan vonis sesat kepada para pejuang / da'i yang sudah bertahun-tahun menda'wahkan manhaj salaf.
Belum lagi selesai memahami dengan baik buku kecil Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan (Syarh Ushul Al Iman), sudah berani menyesatkan orang lain. Bahkan membaca Al-Qur'an pun masih terbata-bata.
Dalam sejarah kaum salaf, kita tidak pernah menemukan ada seorang murid yang baru belajar Islam lalu kemudian berkoar-koar menyesat-kan para salafy lainnya.
Mencela Buku Karya Ulama Besar
Yang lebih mempri-hatinkan, ada suara-suara yang mencela buku karya ulama besar, hanya karena tidak sesuai dengan pendapat atau kemauan ustadznya.
Contohnya adalah buku Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Buku tersebut adalah kumpulan ceramah dan fatwa Beliau yang berkaitan dengan Shahwah Islamiyah, yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Bila kita mempunyai edisi aslinya, pada halaman dalam setelah lembar judul, kita akan menemukan tulisan tangan Beliau yang dengan sangat jelas memberikan izin dan persetujuan terhadap pencetakan buku tersebut.
Hingga kini buku tersebut telah dicetak ulang beberapa kali. Bahkan dijadikan sebagai referensi utama oleh para du'at salafiyyun baik dalam ceramah lisan maupun tulisan.
Kita bisa melihat misalnya dalam jurnal ilmiah Al-Ashalah yang dipimpin oleh Syaikh Salim Al Hilaly, salah seorang murid Syeikh Al-Albani. Dalam edisi No.20 / Syawal 1421 H, dinukilkan fatwa Syaikh yang terdapat pada buku ini.
Dengan demikian, tidak ada satupun yang dapat menggoyahkan keabsahan buku ini sebagai rujukan para pendukung kebangkitan Islam.
Namun sayang, saya kembali mendengar (setelah cukup lama saya mendengarnya) suara-suara yang mengatakan, bahwa buku itu sudah dinasakh (dihapus), buku itu dikritik oleh para ulama, bahkan yang lebih ekstrim mengatakan bahwa buku itu sudah diajukan ke Mahkamah.
Luar biasa!!! Anehnya, semuanya berdasarkan katanya (atau dalam bahasa Arab: qiila wa qaala). Orang-orang yang mengatakan tuduhan ini tidak mempunyai satu bukti apapun. Apakah hanya karena sebuah buku dari seorang ulama Ahlus sunnah itu tidak sejalan dengan kebiasaan bermanhaj salaf sang penuduh selama ini, sehingga dia kemudian membuat fitnah dan tuduhan terhadap buku tersebut ???
Dan ini adalah pesan saya kepada siapa saja yang bermanhaj salaf :
kita semua telah mengetahui sebuah kaidah (fiqih) yang berbunyi, Al Yaqin La Yazuulu Bisysyak (sebuah keyakinan tidak dapat dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan).
Ini adalah sebuah kaidah yang sangat penting dan berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Bila kita telah mengetahui dengan yakin bahwa seseorang itu Muslim, maka keyakinan itu tidak dapat kita gugurkan hanya dengan isu yang kita dengar bahwa ia telah kafir. Atau hanya karena kita ragu apakah ia masih Muslim atau sudah kafir, kita tidak dapat mengkafirkannya, sampai akhirnya kita mempunyai bukti yang memyakinkan bahwa ia telah kafir.
Begitu pula kasusnya dengan buku Panduan Kebangkitan Islam ini. Tulisan tangan Syaikh Al 'Utsaimin dalam halaman dalam buku tersebut, dan dicetaknya Beliau secara berulang-ulang hingga kini adalah bukti yang meyakinkan kita, bahwa buku tersebut tidak pernah ditarik dari peredaran, apalagi sampai diajukan ke Mahkamah.
Syeikh Al 'Utsaimin adalah seorang ulama besar. Apapun yang terjadi berkaitan dengan beliau dan karya-karya beliau pastilah tidak luput dari perhatian para thullaabul 'ilmi. Kalau bisa dikatakan, apapun yang terjadi berkaitan dengan beliau tentu akan segera menjadi berita yang mutawatir, setidaknya di Saudi Arabia, negara tempat beliau tinggal.
Namun hingga hari ini, kita tak pernah mendengar apapun dari beliau tentang buku ini, selain kabar-kabar burung yang disebarkan oleh orang-orang yang terusik cara bermanhaj salafnya dengan buku Syaikh ini. Semoga Allah merahmati beliau.
Demikianlah isi hati saya berkaitan dengan buku beliau.
Namun sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menitipkan dua buah pesan sederhana:
Pertama,
Untuk Para Tunas Baru Salafiyyun.
Teruslah memperdalam manhaj salaf dengan benar. Lakukanlah muhasabah terhadap aqidah kita, sudah sesuai kah dengan manhaj salaf? Terhadap ibadah kita, sudah tepatkah? Dan yang tak kalah pentingnya terhadap akhlak dan perilaku kita, semakin luhurkah kita? Semakin santunkah kita ?
Kita pasti tahu bahwa Nabi Shallallahu 'alahi wasallam ( penghulu para salafiyyun) diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Ingatlah, bahwa akhlaq yang buruk menunjukkan adanya ketidakberesan dalam memahami manhaj yang agung dan mulia ini. Oh ya, teruslah belajar! Jangan disibukkan dengan aneka syubhat dan fitnah. Kalau ada yang menyodorkan kaset yang menyerang sesama pejuang Ahlus sunnah sebaiknya gunakan saja untuk merekam kaset murattal. Atau katakan kepada yang meminjamkan, "Maaf, saya sedang menghafal juz 'amma...atau membaca Prinsip-prinsip Dasar Keimanan...atau membaca Kitabul Jami' yang mengajarkan akhlaq Islam."
Kedua,
kepada para ustadz pejuang manhaj salaf-yang menuduh dan yang tertuduh
Ahlussunnah dan salafiyyun adalah minoritas di negeri ini. Tak terhitung lagi berapa jumlah musuh-musuh Ahlussunnah. Sementara perjalanan masih amat panjang untuk menyebarkan manhaj yang haq ini.
Lalu mengapa saling menuduh ? Tidaklah lebih baik bila kita membersihkan hati dari hasad, dengki dan penyakit hati lainnya, lalu bergandengan tangan menda'wahkan manhaj ini ? Mungkin kini saatnya ber-muhasabah . Barangkali setiap kita masih harus belajar banyak tentang manhaj ini. Tidak ada yang ma'shum selain Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam.
Akhirnya, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan, "Bila apa yang engkau tuduhkan padaku itu benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuniku. Namun, jika apa yang engkau tuduhkan itu tidak benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuni kesalahanmu."
Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Saya teringat (namun sayang sekali saya lupa dalam kaset Beliau yang mana) ketika seseorang bertanya kepada Syaikh Nashiruddin Al-Albani tentang Syaikh Salman Al 'Audah, Beliau rahimahullah menjawab, "Huwa ma'ana 'ala al khath as salafy (Dia bersama kita di atas jalan salafy)."
Lihatlah perbedaan sikap seorang 'alim yang faqih dengan yang tidak. Syaikh Salman bukanlah seorang yang ma'shum. Beliau juga punya kesalahan (bahkan mungkin lebih banyak). Namun hal itu tidak lah mengeluarkan Beliau dari lingkaran Ahlussunnah.
Makassar, 30 Rabi'ul Awwal 1424 H
--dari yang berharap menjadi peneladan yang baik bagi kaum As Salaf ash Shalih
Ayo baca Lagi...
Sambil menangis dia mengucapkan syahadat..
Ia melakukan surat menyurat denganku (lewat internet) sejak beberapa pekan yang lalu. Ia menunjukkan keinginannya mengenal islam.. Dan ia sedang mencari kebenaran. Jenifer..seorang wanita muda dari Kanada yang berumur delapan belas tahun… tetapi, ia tidak seperti anak-anak wanita Kanada yang lain..bahkan kalau bisa, kami katakan,
"ia tidak seperti wanita arab yang ada di masyarakat kami, masyarakat yang berbudaya barat ini.. Ia mengetahui hidup ini pasti ada tujuan dan harapannya…dan kebenaran itu adalah sesuatu yang harus dicari oleh setiap orang."
Kami berupaya memprkenalkan kepadanya beberapa sisi ajaran islam. Selain itu, ada juga orang lain yang ikut membantunya, yaitu orang yang telah menunjukkan situs kami kepadanya..
Saya berbicara dengannya tentang alqur'anul karim, kitab mukjizat yang menunjukkan kepada seluruh dunia bahkan islam adalah agama kebenaran.
Alquran tidak pernah ada yang dapat merubahnya sejak seribu empat ratus tahun yang lalu..alquran yang ada di mesir sama dengan alquran yanga ada di amerika, cina dan jepang.
Saya mengajaknya berbicara tentang fakta-fakta ilmiah yang telah dicapai dunia setelah melakukan berbagai percobaan yang luar biasa dengan menggunakan berbagai teknologi dan ilmu pengetahuan modern, serta menggunakan berbagai perangkat percobaan ilmiah lain yang telah di paket.. Padahal fkta-fakta ilmiah ini sudah ada dalam kitab alloh sejak diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di padang pasir mekkah.
Saya beritahukan kepadanya tentang tantangan alloh subhanahu wa ta'ala yang ditujukan kepada penduduk jazirah arab, agar mereka membuat perkataan semisal alquran, padahal mereka adalah orang-orang ahli dalam bahasa dan mahir dalam menyusun kalimat.. Tetapi mereka tidak mampu. Hali ini saya lakukan utnuk menunjukkan keagungan kitab alquran ini kepadanya..
Hari-hari terus berlalu, lama kelamaan ia pun bertanya tentang islam..dan ingin mengetahui ajaran-ajarannya..sehingga, suatu hari ia bertanya tentang hari raya kaum muslimin. Saya menjawabnya dan menjelaskan kepadanya tata cara kaum muslimin merayakan hari raya mereka, seperti idul fitri dan idul adha.
Saya berhenti sejenak dari pembicaraanku..kemudian saya katakan kepadanya, "apakah belum datang waktunya?"
Ia menjawab, 'Ya sudah.."saya sangat gembira dengan jawabannya..namun, saya ingin menegaskannya..saya katakan kepadanya, "maksudku waktu anda masuk islam?"
Ia berkata,"ya..saya tahu."
Saya berkata kepadanya, seakan hatiku pada saat itu sangat bahaga dan berbunga-bunga sebagai rasa syukurku kepada Alloh, "sekarang juga?"
Ia berkata, "Ya."
"Bisakah anda memberikan nomor telepon anda?" pintaku kepadanya. Ia memberiku nomor teleponnya, kemudian saya segera menghubunginya.
Saya katakan, "saya telah menjelaskan kepada anda bagaimana cara masuk islam..sekarang tinggal melaksanakannya..saya jelaskan kepadanya makna dua kaimat syahadat dengan bhasa inggris, lalau saya kataka kepdanya, "tirukan ucapanku…Asyahadu..alla..ilaha..illallah.
Saya menuntunnya, sedikit demi sedikit suaranya mulai pecah.. Kemudan saya meneruskan kalimat syahadat selanjutnya, sayab katakan kepadanya, "wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.. Ia menirukannya dengan suara yang semakin pecah..hingga ia menangis dengan suara yang tinggi…
Saya bertanya, "apa yang membuatmu mengais.. Apakah anda sedih?"
"ini bukan air mata kesedihan."katanya.
Saya bertanya kembali, "kalau begitu, apa yang membuat anda menangis.. Demi alloh anda searang berada pada kebaikan yang besar.. Alloh subhanahu wa ta'la benar-benar telah memilih anda untuk memeluk islam dari utaan manusia yang meninggalkan islam..dan dari orang-orang islam yang tidak berpegang teguh dengan agama merka. Jadi, sebab apa anda menangis?"
Ia berkata kepadaku, dan ia masih terus menangis, "saya tidak tahu…"
Saya menjelaskna kepadanya, bahwa alloh telah memuliakannya dengan nikmat ini..dan telah mengampuni segalam kesalahannya sebelum islam..saya memintanya berdoa kepada alloh, semoga Ia mengampuni dosa-dosaku. Setelah itu saya meletakkan gagang telepon dengan menjanjika kepadanya untuk mengajarinya sholat-insyaa alloh- melalui internet, sehingga ia mendapatkan email islami di kotanya yang mengajarinya sholat.
Tak lama kemudian ia muncul lagi di internet untuk berbincang-bincang denganku. Saya bertanya kepadanya, 'mengapa saat itu anda menangis?" Ia menjawab, "saya sendiri tidak tahu mengapa saya menangis..pada ssai itu perasaanku aneh..saya emrasakan kebahagiaan di dalam hatiku..saya merasa aman dan merasa cinta..dan saya merasa bahwa islam itulah yang benar.."
Demi Alloh saya sangat sedih, karena kebanyakan di anatara kita tidak dikarunia perasaan ini..bahkan bisa jdi ada yang telah mengetahui perasaan ini akan tetapi ia tidak mempercayainya padahal perasaan tersebut benar.. Alloh subhanahu wa ta'ala telah menjadikan alquran sebagai obat segala penyakit hati..dan menjadikan islam sebagai jalan keluar untuk setiap permasalahn manusi..betapa indhanya perasaan yang benar ini, ketika terpancar dalam dada orang-orang yang baru masuk islam..
Kai memohon kepada alloh agar mengampuninya dan emmaafkannya, serta menolongnya dalam menempuh islam..dan jangan lupa akan doa baik kalian untuknya…
Ditulis ulang dari buku "akhirnya mereka memilih islam" karya khalid Abu shalih
Ayo baca Lagi...