Laman

“UNTUK APA KITA HIDUP?”


SEBUAH TANYA YANG LALAI UNTUK SELALU KITA JAWAB

Sahabatku di jalan Allah…

Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”

Manusia-manusia agung seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.

Sahabatku dalam perjuangan…

Suatu ketika, aku diizinkan oleh Allah untuk menyiapkan penerbitan sebuah buku tentang kehidupan seorang mujahid besar abad ini, Syekh Ahmad Yasin rahimahullah. Terus terang harus kuakui, saat membaca buku itu, aku seperti baru saja mengenal mujahid yang lumpuh itu. Aku malu. Dan itu bukan basa-basi. Aku benar-benar malu pada Syekh itu. Menurutmu, dengan sekujur tubuh yang lumpuh seperti itu, apa yang akan engkau lakukan untuk masa depanmu? (Ingatlah, aku tidak sedang bertanya tentang “apa yang akan engkau lakukan untuk ummat ini dengan kelumpuhan seperti itu?”). Mengucilkan diri. Atau mencoba tersenyum dan mencoba bersabar. Bukankah kita patut malu pada Syekh tua itu? Mengapa kita tidak malu, dengan tubuh yang sedemikian sehat ini saja kita tak pernah benar-benar serius memikirkan masa depan ummat, apalagi dengan segala kelumpuhan fisik.

Hari itu, saat aku usai membaca tentang Syekh Ahmad Yasin, aku mencatat dalam pengantarku untuk buku itu kalimat-kalimat berikut:
“’Hidup ini sesungguhnya untuk apa?’. Itulah pertanyaan yang seharusnya bergelayut dalam pikiran dan benak kita sepanjang hari. Tidak untuk apa-apa, hanya sekedar untuk mengingatkan kita, apakah kelak bila kematian menjemput, ada jejak yang patut kita banggakan di hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil hisab. Bukankah hingga usia kehidupan kita sejauh ini, kita masih selalu saja melupakan hal itu? Kilap kemilau dunia terlalu sering membuat kita lalai menyiapkan “jejak-jejak kebaikan” yang menebarkan semerbak wewangian mengagumkan di dunia dan di akhirat kelak.

Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak pula yang beranjak menjemput kematian. Ke mana mereka semuanya pergi? Entahlah. Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan kafilah yang mengikuti mereka.

Banyak orang yang hidup. Fisik mereka sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh. Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.

Dulu –tapi belum lama-, seorang pria tua dan lumpuh pernah hidup di antara reruntuhan negri dan bangsanya. Bagi manusia berhati lemah, reruntuhan itu mungkin tak akan pernah menyisakan harapan. Tapi tidak bagi “manusia berjiwa langit” ini. Kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Lihatlah wajah dan senyumnya! Dari situ saja, engkau akan mendapatkan energi kehidupan. Kekuatan dan energi itulah yang membuatnya menjadi manusia paling ditakuti oleh bangsa paling “cerdik” (baca: cerdas tapi licik) di dunia, Israel. Padahal menggerakkan tangannya saja ia tak sanggup, apalagi menarik pelatuk senjata.

Dan hari itu, 22 Maret 2004, di sebuah subuh yang dingin, pria tua dan lumpuh itu meraih impian tertingginya. Ketakutan Israel yang semakin membuncah mendorong mereka untuk menembakkan rudal dari sebuah helikopter Apache buatan Amerika…hanya untuk membunuh seorang kakek yang bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak sanggup. Subuh yang dingin itu menjadi saksi. Tembok-tembok rumah yang terciprat darah itu pun kelak menjadi saksi, bahwa di tanah itu, seorang “panglima berkursi roda” memenuhi janji Tuhannya.

Ahmad Yasin, nama kakek tua yang lumpuh itu. Ada banyak kata untuknya. Dan buku kecil ini adalah “sedikit kata” tentangnya. Jika hingga detik ini, Anda belum juga menemukan jawaban untuk “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”, bacalah buku ini. Insya Allah, Anda akan mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup, lalu kelak meninggalkan jejak-jejak semerbak di dunia dan di akhirat.” (Pengantar buku Syekh Ahmad Yasin; Syahid yang Membangunkan Ummat , hal.ix-xi)

Sahabatku…

Setiap kali aku membaca kalimat-kalimat yang kutulis sendiri itu, setiap kali itu pula aku perasaan malu dalam jiwaku membuncah. Entah apa yang sanggup kita katakan? Tubuh yang sempurna ini, bukankah kelak ia akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengannya? Mata yang indah ini, wajah yang sempurna ini, bibir yang cantik ini, kedua tangan yang lengkap ini, kedua kaki yang tegap melangkah ini; Sahabat, tentang semua nikmat ini, bukankah kita akan dihisab?? Tapi sejauh ini, jejak kebaikan apakah yang telah kita tinggalkan melalui setiap anggota tubuh dan panca indera kita yang luar biasa kenikmatannya itu?

Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku, benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh
meyakininya? Atau mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia shaleh kekasih Tuhan? Ah, sudahlah…Ini semakin membuatku malu. Seorang ulama salaf pernah mengungkapkan pada muriid-muridnya –ia heran mengapa mereka begitu betah duduk bersamanya-, “Seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan aroma yang busuk dari para pelakunya, maka pasti kalian tidak akan berlama-lama duduk di majlisku ini.” Demikian ungkapnya. Lalu kita, ya, kita, sahabat, apa yang akan kita katakan?

Sahabatku…

Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu, “Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri, saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri. Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.

Cipinang Muara, 19 Rajab 1426H
Muhammad Ihsan Zainuddin

sumber: abul-miqdad.blogspot.com
Ayo baca Lagi...

Apa susahnya Tabayyun???

"ukhti, ana tidak sangka ternyata anti berpacaran..kenapa ukhti?anti kan seorang akhwat…dah tau ilmunya kan?"
"ukhti, kamu ga kerja amanahmu gara-gara melakukan sesutu yang ga bermanfaat ya…ckckc..ukhti..ukhti.."
"eh tau ga..si ukhti ini gini loh..dia gini..bla..bla..bla.."

Miris sekali terasa jika lontaran-lontaran kalimat tersebut dikeluarkan oleh saudari-saudari kita sendiri..
Saudari yang selalu bersama kita, berjuang di jalan dakwah..
Hanya karena mendengar berita-berita bohong dan tidak jelas dari mulut-mulut orang tidak bertanggung jawab, mereka dengan relanya berburuk sangka kepada saudarinya sendiri..
“Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dan lebih parah, jika kalimat-kalimat itu diucapkan di depan orang yang banyak…
Apakah itu dikatakan sebuah nasehat???
Seorang imam syafi'I saja mengatakan bahwa beliau tidak akan ridho jika dinasehati di depan orang banyak… apatah lagi jika hanya seorang akhwat yang mempunyai hati yang lemah,yang terkadang lebih sering lalai…

saudariku tidak sadarkah engkau telah menyakiti saudarimu???
Walupun engkau merasa bahwa itu adalah sebuah candaan, tapi apakah kau tidak pernah beprfikir tentang perasaan saudarimu jika di candai seperti itu???

Saudariku…
Kalian adalah seorang penuntut ilmu, yang tahu ilmu tentang tabayyun..
Dirimu telah menuntut ilmu sejak lama..
Dirimu pun selalu menasehati adik-adik dan orang-rang awam yang berada di sekitarmu tentang pentingnya tabayyun itu..
Lantas, mengapa sikap tabayyun itu tidak kau aplikasikan ketika mendengar berita yang simpang siur tentang saudarimu??

Apakah susah bertabayyun??
Mengapa engkau lebih senang ketika saudari-saudarimu itu diberikan "cap" yang jelek dari orang lain..?
Kenapa bukan kamu saja yang langsung mengklarifikasi berita yang kau dapatkan itu kepada saudarimu secara langsung?? Malah kau dengan mudahnya menyebarkan kabar yang belum pasti tersebut kepada yang lainnya..
Cobalah lihat Ayat alloh dalam alqur'an tentang tabayyun
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. al-Hujurat [49]: 6)

Saudariku..taukah dirimu?? Hanya 2 hal yang kau akan terjatuh dalam perkara ini…
Jika bukan fitnah…maka engkau telah menggibahi saudarimu…
Belumkah cukup ayat-ayat alloh dalam alqur'an dan hadits-hadits rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang ghibah??? Tentang fitnah?? Apakah itu belum cukup wahai saudariku..??

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Hujurat [49]: 12).

“Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Kamu menyebut sesuatu dari kawanmu yang ia sangat benci jika dikatakan.” “Bagaimana seandainya saya menceritakan apa yang memang terjadi pada saudaraku.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau menceritakan apa yang terjadi pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya; dan apabila engkau menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi pada saudaramu, maka engkau telah membohongkannya.” [HR. Abu Dawud].

Saudariku..cukuplah hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita untuk senantiasa menjaga lisan-lisan kita,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Janganlah kamu sekalian banyak bicara, kecuali untuk dzikir kepada Allah. Sebab, banyak bicara pada selain dzikir kepada Allah akan menyebabkan kerasnya hati, dan orang yangpaling jauh dari sisi Allah Subhanahu wa ta'ala adalah orang yang keras hatinya.” [HR. at-Tirmidzi].

Dalam sebuah riwayat yangdiketengahkan oleh Imam at-Tirmidzi dijelaskan bahwa kunci untuk meraih keluhuran jiwa adalah menjaga lisan. Mu’adz ra berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah beritahukan kepada saya amal perbuatan yang dapatmemasukkan saya ke dalam sorga dan menjauhkan dari neraka?” Beliau bersabda: “Kamu benar-benar menanyakansesuatu yang sangat besar. Sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, yaitu:
Hendaklah kamu menyembah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatuapapun, mendirikansholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bila kamu mampu menempuh
perjalanannya.” Selanjutnya, beliau bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalahperisai, shadaqah dapat menghilangkan dosa seperti halnya air memadamkan api, dan sholat seseorang pada tengahmalam.” Beliau lantas membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa
kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, serta mereka menafkahkan sebagian rizki yang telah Kamiberikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam-macam
nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Lalu, beliau bertanya kembali, “Maukah engkau aku tunjukkan pokok dan tiang dari segala sesuatu dan puncak keluhuran?” Sayaberkata, “Baiklah ya Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah sholat,
dan puncak keluhurannya adalah berjuang di jalan Allah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkantentang kunci dari kesemuanya itu?” Saya menjawab, “Tentu ya Rasulullah.” Beliau lantas memegang lidahnya seraya
berkata, “Peliharalah ini.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut atas apa yang kami katakan?” Beliaubersabda “Celaka kamu, bukankah wajah manusia tersungkur ke dalam neraka, tidak lain karena akibat lidah mereka?”
[HR. at-Tirmidzi].

Ukhtifillah..ini hanyalah sebuah nasehat buatmu, juga buatku… semoga kita senantiasa menjaga lisan-lisan kita, marilah menumbuhkan sikap tabayyun dalam diri kita, karena boleh jadi orang yang kita ghibahi ataupun kita fitnah, tidak ridho akan kelakuan kita dan akan menuntut perbuatan kita di hari Pembalasan Kelak… wal iya'udzubillah…
Dengan segenap rasa cintaku kepada kalian, aku minta maaf jika telah berbuat salah kepada kalian… sesungguhnya aku mencintai kalian karena alloh… semoga ukhuwah ini tidak akan pernah retak hanya karena sebuah lidah yang tak bertulang…wallohu a'lam


_serambi madinah 19 oktober 2009_
Ayo baca Lagi...

Sepucuk surat Buat Seorang kakak...


Sudah 4 tahun berlalu,
Saat aku melihatmu di sebuah musyawarah..
Tertawa, bercanda dan berbagai lontaran nasehat yang kau berikan kepada kami..
Mulai dari sana, aku ingin mengenalmu…
Menimba ilmu darimu..
Dan mendengarkan nasehat-nasehatmu…
Kuperkenalkan diriku kepadamu, dan kunyatakan bahwa ku"ingin" dekat denganmu…
Bukan sebagai satu-satunya orang yang kau sayangi
Tapi hanya sebatas teman diantara teman-temanmu yang lain..

Hari demi hari berlalu
Bulan pun berganti dengan bulan yang lain,,
Komunikasi terus berjalan denganmu,
Andai kau tahu betapa senangnya hatiku memiliki saudari sepertimu
Yang rela menegurku kapan saja jika terjatuh dalam kesalahan…
Rela mengangkat telpon dariku walau malam sudah semakin larut dan hanya mengatakan "kayfa haluki kak?""
Dan rela membalas sms-sms dariku, walaupun itu tidak terlalu penting…
Andai kau tahu betapa beruntungnya diri ini bisa mengenalmu, bisa dekat denganmu walau hanya lewat telpon dari jarak jauh…

Ketika kutahu bahwa kau telah menyelesaikan masa studi mu dan ingin segera kembali ke serambi madinah kita..
Rasanya hati ini begitu senang,,,hanya satu dalam pikiranku… "cari ilmu sebanyak mungkin denganmu"
Alhamdulillah, alloh memberikan nikmat itu kepadaku..
Kau ajari aku dengan ilmu yang kau dapatkan.. Tentang mustholatul hadits….
Walupun waktu itu sang matahari begitu memancarkan panasnya, tapi kau tak urungkan niatmu untuk mengajarku…
Kaupun memberiku berbagai macam buku yang begitu bermanfaat…
Tak ada kata letih saat kau mengajariku bahasa arab.. Bahasa yang sangat ingin ku kuasai…
Terima kasih, hanya itu yang bisa kukatakan..

Banyak hal yang kupelajari darimu,,
Teringat di masa lalu, saat kukeluhkan seorang akhwat yang sikapnya sedikit keterlaluan kepadaku,
Tapi kau hanya mengatakan "husnuzhon dek..mungkin akhwatnya lagi khilaf"
Dan diberbagai nasehat yang kau berikan padaku,, ah sungguh itu sangat berharga….
Jazaakillahu khairon katsiron buat semuanya…

Hari ini tepat pada tanggal 18 oktober 2009, di gedung itu, kaupun akan resmi menjadi istri seseorang…
Yang akan memulai kisahmu bersama sang pangeran hatimu…
Selamat buatmu kak..
Doaku untukmu.. Semoga menjadi seorang istri yang sholehah dan kelak bisa melahirkan seorang mujahid/mujahidah yang bisa menegakkan kalimat alloh di muka bumi ini…
Baarakallaahu laka wa baaraka 'alayka wa jama'a baynakumaa fii khair…


"teruntuk kakanda sekaligus guruku kak diana, selamat menempuh hidup baru…semoga pernikahannya bisa menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah wa rohmah…syukron katsiron wa jazaakillahu khairon atas kebaikan kk selama ini T.T, uhibbukifillah "

_Serambi madinah 18 oktober 2009_

Nb: 'afwan kalau tulisannya jelek dan amburadul, maklum orang baru belajar nulis,, ini hanyalah sebuah ungkapan hati dari seorang murid ^_^
Ayo baca Lagi...