"assalamu'alaikum..kak afwan, saya minta izin tidak pergi tarbiyah, karena saya kena kanker ganas, tolong doakan saya supaya cepat sembuh supaya bisa tarbiyah lagi. Syukran kak."
Kira-kira seperti itulah bunyi sms yang masuk dalam inbox hpku sekitar 2 bulan yang lalu dari seorang adik.. Seorang adik yang terkenal ceria dan penuh semangat dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang anak SMP..
Sudah 2 bulan ini, kami kehilangan canda dan tawanya…
Sudah 2 bulan ini tarbiyah kami sepi dengan gurauan-gurauan manisnya..
Sudah 2 bulan ini kami tak lagi mendengarnya menyetorkan hafalan alqur'an..
Semua disebabkan karena dirinya masih berjuang melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya…
Hari ini, pertama kali aku menjenguknya di rumah sakit disebabkan karena kesehatanku yang juga agak terganggu sehingga baru sempat menjenguknya.
Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar kalau adik ini penyakitnya semakin parah dan musti dirawat di ruang ICU. Aku pun melangkahkan kakiku untuk menjenguknya bersama salah seorang kakak dan teman-teman tarbiyah adik itu…
Sesampai di rumah sakit, aku masuk ke ruang ICU, karena di ruangan ICU tidak boleh dimasuki oleh banyak orang, akhirnya kami bergantian masuk, aku mendapat giliran yang pertama masuk..
Ketika aku masuk, terlihat seorang adik yang sangat berbeda..beda dengan adik yang pertama kali kulihat sekitar 2 bulan yang lalu…
Dirinya duduk tertunduk lesu dengan beberapa selang yang berada di tubuhnya, dia memakai alat bantuan pernafasan, rambutnya yang dulunya begitu subur, kini rontok satu persatu…dengan suara yang sangat lemas, dia meminta bantuan dokter untuk mengambilkannya sesuatu…
Kutatap dia dengan wajah yang sangat sedih dan kusapa dirinya..
"dek, masih ingat kk? Bagaimana perasaannya de?"
"iya kak,, panas..panas.." walaupun dengan suara yang begitu lemas dan hampir tidak terdengar, dia masih menyempatkan dirinya menjawab pertanyaanku bahwa dia masih mengenaliku..
Kupandangi dirinya beberapa menit dan aku pun mulai mengingat awal kali aku bertemu dengannya..
Seorang anak dengan wajah yang ceria, senyum yang indah, tubuh yang sehat dan semangat yang membara dalam menuntut ilmu..
Tapi sekarang…
Kemana wajah ceria itu??
Kemana senyum indah itu??
Kemana semangat yang membara itu??
Kemana??
Sebuah penyakit membuat semuanya hilang..hilang…hingga membuat dirinya begitu berbeda…
Aku pun keluar dari ruangan tersebut, karena masih banyak teman-temannya yang lain yang ingin melihatnya. Sebelum keluar ku katakan padanya..
"de, cepat sembuh ya, rajin minum obat..ntar kalau dah sembuh kita tarbiyah lagi.."
"iya kak" dia menjawab dengan nada yang lesu…
Teman-temannya pun bergantian masuk menjenguknya. Setiap salah seorang dari mereka keluar, air mata mereka tak kuasa mereka bendung..
Sedih melihat keadaan saudarinya..
Rindu ingin melihat saudarinya berkumpul bersama..
Tertawa, bercanda, bergurau..semua mereka rindukan dari seorang saudari yang masih berada di dalam kamar tersebut melawan penyakitnya…
"kak..dia begitu kurus, rambutnya rontok, dia begitu lemas kak..padahal waktu terakhir aku lihat dia tidak sekurus itu.." salah seorang adik menyampaikan perasaaannya padaku sambil mengusap air matanya ketika selesai melihat temannya..
Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar dari seorang teman. Waktu itu si adik belum masuk ke ruangan ICU. Ketika salah seorang temannya datang menjenguk..si adik yang sekarang berada di ruang ICU itu menyapa teman yang menjenguknya sembari mengatakan "ukhti, masih kenal sama ana kan?"(itu dia katakan, karena tubuhnya yang sudah mulai melemah, dan rambutnya pun sudah mulai rontok sehingga dia merasa temannya sudah tidak mengenalinya lagi) teman yang menjenguknya begitu sedih mendengar kata dari saudarinya tercinta, dia pun tak kuasa menjawab pertanyaannya dan langsung keluar kamar dan menangis tersedu-sedu..
Tak ada yang bisa kami lakukan selain berdo'a, berdo'a dan berdo'a..semoga adikfillah diberi kesembuhan oleh alloh dan kembali ceria seperti dulu lagi…
Amin..allohumma amiin…
"teruntuk adindaku tersayang "ghina" yang masih berjuang melawan penyakitnya… semoga lekas sembuh adik…agar kita bisa tarbiyah lagi, bercanda, tertawa, tersenyum, dan menghafal alqur'an bersama teman-teman yang lain..karena kami sangat merindukan kehadiranmu… syafahallahu wa laba'sa thahurun insyaa alloh"
"serambi madinah 12-mei-2009 saat menunggu di sebuah ruangan dokter…"
Ayo baca Lagi...
Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang atas perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah. (HR .Muslim)
Kemana senyum manismu adinda???
Renungan untuk tidak berfikir picik
Oleh: Ustadz Muh. Ihsan ibnu Zainuddin, Lc.
SAYA bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya hidayah untuk meyakini bahwa Islam yang benar hanya dapat dipahami dan diamalkan sebagaimana manhaj para As-Salaf Ash-Shaleh. Saya juga bersyukur karena Allah juga memberikan rasa cinta dalam hati saya kepada generasi terbaik itu.
Walaupun saya tak pernah bisa benar-benar sama dengan mereka (dan tak akan pernah sama), bahkan menyerupai pun rasanya jauh. Apa sih yang dapat kita lakukan di zaman yang penuh fitnah ini, selain berusaha meperkecil perbedaan kondisi pribadi kita (dalam hal aqidah, ibadah, mu'amalah dan akhlak) dengan kondisi keseharian kaum salaf ?
Di zaman ini, pengakuan diri sebagai seorang salafy mungkin hanya bisa diterjemah-kan sebagai kesalaf-salafan saja, atau berusaha untuk menyerupai kaum As-Salaf Ash-Shaleh saja. Dan itu sekali lagi amat berat. Jika ada yang merasa lebih dari itu, merasa diri benar-benar pas dengan kehidupan kaum As-Salaf Ash-Shaleh, maka menurut saya ia hanyalah orang yang tertipu oleh dirinya sendiri.
Kita sekarang ini hanya dapat menghibur diri dengan pesan Nabi shallallahu 'alaihi wassalam"Seseorang itu (kelak di akhirat) akan bersama dengan orang yang ia cintai."
Mudah-mudahan dengan kecintaan pada generasi As-Salaf Ash-Shaleh, kelak kita akan bersama-sama mereka di surga. Semoga.
Dan sejak mengenal manhaj salaf sebagai satu-satunya metode yang benar dalam memahami Islam, saya pun merasa tersejukkan setiap kali mendengar apapun mengenai manhaj ini dan para pejuang-pejuangnya. Saya begitu yakin, bahwa manhaj salaf adalah Islam itu sendiri.
Ya, ia adalah penjelasan, penjabaran, dan gambaran tentang Islam itu sendiri, yang begitu lengkap, menyeluruh dan mencakup seluruh aspek ke-hidupan.
Sejak awal, saya telah meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang indah dan menyejukkan. Maka dalam hati saya pun terpatrilah keyakinan bahwa manhaj salaf pun pastilah sebuah manhaj yang indah dan me-nyejukkan.
Itulah keyakinan saya hingga kini dan Insya Allah akan menjadi aqidah saya hingga maut datang menjemput. Ya Allah, kabulkanlah!
Oleh sebab itu, saya sangat sedih bila ada sebagian pejuang Da'wah Salafiyah yang justru membuat keindahan dan kesejukan manhaj salaf itu ter-nodai, hanya dikarenakan pemahaman yang tidak benar, bahkan cenderung picik terhadap manhaj yang agung ini.
Hanya mengambil sepotong-sepotong, lalu melakukan penyerangan ke sana ke mari. Dan yang lebih hebat lagi, penyerangan itu disertai nukilan-nukilan dalil dan pendapat para ulama yang tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya, ditambah dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar.
Akibatnya, perpecahan-yang nota bene merupakan salah satu tanda pokok ahlul bid'ah- justru menjadi fenomena yang tak asing lagi di kalangan orang-orang yang mengaku berjuang di atas manhaj salaf.
Bahkan tidak sekedar berpecah. Mereka juga saling menyerang, menuduh dan me-nuding. Maka anda dapat me-nyaksikan betapa banyak murid-murid yang dengan penuh gagah berani menyerang (bekas) ustadznya. Padahal sang ustadznya lah yang memperkenalkan manhaj salaf kepada mereka.
Dan yang lebih lucu lagi, muncul fenomena bantah mem-bantah via kaset. Bila seseorang membuat tahdzir terhadap si fulan dalam 3 kaset, maka tunggulah bantahan si fulan dalam 5 kaset.
Siapapun yang melihat ini akan tertegun heran. Para ahlul bid'ah akan bersorak-sorai melihat pertarungan antar pejuang Ahlus sunnah. Namun saya sangat sedih. Inikah yang diwariskan oleh generasi As-Salaf Ash-Shaleh ? begitulah bunyi pertanyaan yang hingga kini selalu merisaukan hati saya.
Pertanyaan itu terus menggelora, hingga saya menyimpulkan (sesuai kapasitas ilmu saya yang masih sedikit) bahwa nampaknya ada kesalahan dalam memahami manhaj ini.
Dalam manhaj Ahlus sunnah, perbedaan pendapat tidaklah identik dengan perpecahan. Semuanya pasti mengetahuinya. Namun tidak banyak yang benar-benar faqih dan santun menerapkannya. Terkadang masalah ijtihadiyah dijadikan sebagai pangkal perpecahan. Hanya karena satu masalah yang para ulama besar pun berbeda pendapat di dalamnya, seseorang begitu mudah mengeluarkan saudaranya dari lingkaran ahlus sunnah wal jama'ah.
Padahal generasi As-Salaf Ash-Shaleh, telah mewariskan kepada kita Adab Al-Khilaf (adab dan etika berbeda pendapat). Seperti ditunjukkan dengan sangat indah oleh Imam Syafi'iy kepada salah seorang lawan diskusinya, yang tidak lain adalah muridnya sendiri, "Tidak pantas kah kita tetap bersaudara, walaupun kita berbeda pendapat dalam beberapa masalah?" Dan Beliau mengucapkannya seraya menggenggam tangan muridnya itu. Alangkah indahnya jika para pejuang Da'wah Salafiyyah kita bisa seperti itu.
Yang menyedihkan, sebagian anak-anak muda (ikhwan maupun akhwat) yang baru kemarin sore belajar manhaj salaf sudah berani melemparkan vonis sesat kepada para pejuang / da'i yang sudah bertahun-tahun menda'wahkan manhaj salaf.
Belum lagi selesai memahami dengan baik buku kecil Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan (Syarh Ushul Al Iman), sudah berani menyesatkan orang lain. Bahkan membaca Al-Qur'an pun masih terbata-bata.
Dalam sejarah kaum salaf, kita tidak pernah menemukan ada seorang murid yang baru belajar Islam lalu kemudian berkoar-koar menyesat-kan para salafy lainnya.
Mencela Buku Karya Ulama Besar
Yang lebih mempri-hatinkan, ada suara-suara yang mencela buku karya ulama besar, hanya karena tidak sesuai dengan pendapat atau kemauan ustadznya.
Contohnya adalah buku Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Buku tersebut adalah kumpulan ceramah dan fatwa Beliau yang berkaitan dengan Shahwah Islamiyah, yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Bila kita mempunyai edisi aslinya, pada halaman dalam setelah lembar judul, kita akan menemukan tulisan tangan Beliau yang dengan sangat jelas memberikan izin dan persetujuan terhadap pencetakan buku tersebut.
Hingga kini buku tersebut telah dicetak ulang beberapa kali. Bahkan dijadikan sebagai referensi utama oleh para du'at salafiyyun baik dalam ceramah lisan maupun tulisan.
Kita bisa melihat misalnya dalam jurnal ilmiah Al-Ashalah yang dipimpin oleh Syaikh Salim Al Hilaly, salah seorang murid Syeikh Al-Albani. Dalam edisi No.20 / Syawal 1421 H, dinukilkan fatwa Syaikh yang terdapat pada buku ini.
Dengan demikian, tidak ada satupun yang dapat menggoyahkan keabsahan buku ini sebagai rujukan para pendukung kebangkitan Islam.
Namun sayang, saya kembali mendengar (setelah cukup lama saya mendengarnya) suara-suara yang mengatakan, bahwa buku itu sudah dinasakh (dihapus), buku itu dikritik oleh para ulama, bahkan yang lebih ekstrim mengatakan bahwa buku itu sudah diajukan ke Mahkamah.
Luar biasa!!! Anehnya, semuanya berdasarkan katanya (atau dalam bahasa Arab: qiila wa qaala). Orang-orang yang mengatakan tuduhan ini tidak mempunyai satu bukti apapun. Apakah hanya karena sebuah buku dari seorang ulama Ahlus sunnah itu tidak sejalan dengan kebiasaan bermanhaj salaf sang penuduh selama ini, sehingga dia kemudian membuat fitnah dan tuduhan terhadap buku tersebut ???
Dan ini adalah pesan saya kepada siapa saja yang bermanhaj salaf :
kita semua telah mengetahui sebuah kaidah (fiqih) yang berbunyi, Al Yaqin La Yazuulu Bisysyak (sebuah keyakinan tidak dapat dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan).
Ini adalah sebuah kaidah yang sangat penting dan berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Bila kita telah mengetahui dengan yakin bahwa seseorang itu Muslim, maka keyakinan itu tidak dapat kita gugurkan hanya dengan isu yang kita dengar bahwa ia telah kafir. Atau hanya karena kita ragu apakah ia masih Muslim atau sudah kafir, kita tidak dapat mengkafirkannya, sampai akhirnya kita mempunyai bukti yang memyakinkan bahwa ia telah kafir.
Begitu pula kasusnya dengan buku Panduan Kebangkitan Islam ini. Tulisan tangan Syaikh Al 'Utsaimin dalam halaman dalam buku tersebut, dan dicetaknya Beliau secara berulang-ulang hingga kini adalah bukti yang meyakinkan kita, bahwa buku tersebut tidak pernah ditarik dari peredaran, apalagi sampai diajukan ke Mahkamah.
Syeikh Al 'Utsaimin adalah seorang ulama besar. Apapun yang terjadi berkaitan dengan beliau dan karya-karya beliau pastilah tidak luput dari perhatian para thullaabul 'ilmi. Kalau bisa dikatakan, apapun yang terjadi berkaitan dengan beliau tentu akan segera menjadi berita yang mutawatir, setidaknya di Saudi Arabia, negara tempat beliau tinggal.
Namun hingga hari ini, kita tak pernah mendengar apapun dari beliau tentang buku ini, selain kabar-kabar burung yang disebarkan oleh orang-orang yang terusik cara bermanhaj salafnya dengan buku Syaikh ini. Semoga Allah merahmati beliau.
Demikianlah isi hati saya berkaitan dengan buku beliau.
Namun sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menitipkan dua buah pesan sederhana:
Pertama,
Untuk Para Tunas Baru Salafiyyun.
Teruslah memperdalam manhaj salaf dengan benar. Lakukanlah muhasabah terhadap aqidah kita, sudah sesuai kah dengan manhaj salaf? Terhadap ibadah kita, sudah tepatkah? Dan yang tak kalah pentingnya terhadap akhlak dan perilaku kita, semakin luhurkah kita? Semakin santunkah kita ?
Kita pasti tahu bahwa Nabi Shallallahu 'alahi wasallam ( penghulu para salafiyyun) diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Ingatlah, bahwa akhlaq yang buruk menunjukkan adanya ketidakberesan dalam memahami manhaj yang agung dan mulia ini. Oh ya, teruslah belajar! Jangan disibukkan dengan aneka syubhat dan fitnah. Kalau ada yang menyodorkan kaset yang menyerang sesama pejuang Ahlus sunnah sebaiknya gunakan saja untuk merekam kaset murattal. Atau katakan kepada yang meminjamkan, "Maaf, saya sedang menghafal juz 'amma...atau membaca Prinsip-prinsip Dasar Keimanan...atau membaca Kitabul Jami' yang mengajarkan akhlaq Islam."
Kedua,
kepada para ustadz pejuang manhaj salaf-yang menuduh dan yang tertuduh
Ahlussunnah dan salafiyyun adalah minoritas di negeri ini. Tak terhitung lagi berapa jumlah musuh-musuh Ahlussunnah. Sementara perjalanan masih amat panjang untuk menyebarkan manhaj yang haq ini.
Lalu mengapa saling menuduh ? Tidaklah lebih baik bila kita membersihkan hati dari hasad, dengki dan penyakit hati lainnya, lalu bergandengan tangan menda'wahkan manhaj ini ? Mungkin kini saatnya ber-muhasabah . Barangkali setiap kita masih harus belajar banyak tentang manhaj ini. Tidak ada yang ma'shum selain Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam.
Akhirnya, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan, "Bila apa yang engkau tuduhkan padaku itu benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuniku. Namun, jika apa yang engkau tuduhkan itu tidak benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuni kesalahanmu."
Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Saya teringat (namun sayang sekali saya lupa dalam kaset Beliau yang mana) ketika seseorang bertanya kepada Syaikh Nashiruddin Al-Albani tentang Syaikh Salman Al 'Audah, Beliau rahimahullah menjawab, "Huwa ma'ana 'ala al khath as salafy (Dia bersama kita di atas jalan salafy)."
Lihatlah perbedaan sikap seorang 'alim yang faqih dengan yang tidak. Syaikh Salman bukanlah seorang yang ma'shum. Beliau juga punya kesalahan (bahkan mungkin lebih banyak). Namun hal itu tidak lah mengeluarkan Beliau dari lingkaran Ahlussunnah.
Makassar, 30 Rabi'ul Awwal 1424 H
--dari yang berharap menjadi peneladan yang baik bagi kaum As Salaf ash Shalih
Ayo baca Lagi...
Sambil menangis dia mengucapkan syahadat..
Ia melakukan surat menyurat denganku (lewat internet) sejak beberapa pekan yang lalu. Ia menunjukkan keinginannya mengenal islam.. Dan ia sedang mencari kebenaran. Jenifer..seorang wanita muda dari Kanada yang berumur delapan belas tahun… tetapi, ia tidak seperti anak-anak wanita Kanada yang lain..bahkan kalau bisa, kami katakan,
"ia tidak seperti wanita arab yang ada di masyarakat kami, masyarakat yang berbudaya barat ini.. Ia mengetahui hidup ini pasti ada tujuan dan harapannya…dan kebenaran itu adalah sesuatu yang harus dicari oleh setiap orang."
Kami berupaya memprkenalkan kepadanya beberapa sisi ajaran islam. Selain itu, ada juga orang lain yang ikut membantunya, yaitu orang yang telah menunjukkan situs kami kepadanya..
Saya berbicara dengannya tentang alqur'anul karim, kitab mukjizat yang menunjukkan kepada seluruh dunia bahkan islam adalah agama kebenaran.
Alquran tidak pernah ada yang dapat merubahnya sejak seribu empat ratus tahun yang lalu..alquran yang ada di mesir sama dengan alquran yanga ada di amerika, cina dan jepang.
Saya mengajaknya berbicara tentang fakta-fakta ilmiah yang telah dicapai dunia setelah melakukan berbagai percobaan yang luar biasa dengan menggunakan berbagai teknologi dan ilmu pengetahuan modern, serta menggunakan berbagai perangkat percobaan ilmiah lain yang telah di paket.. Padahal fkta-fakta ilmiah ini sudah ada dalam kitab alloh sejak diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di padang pasir mekkah.
Saya beritahukan kepadanya tentang tantangan alloh subhanahu wa ta'ala yang ditujukan kepada penduduk jazirah arab, agar mereka membuat perkataan semisal alquran, padahal mereka adalah orang-orang ahli dalam bahasa dan mahir dalam menyusun kalimat.. Tetapi mereka tidak mampu. Hali ini saya lakukan utnuk menunjukkan keagungan kitab alquran ini kepadanya..
Hari-hari terus berlalu, lama kelamaan ia pun bertanya tentang islam..dan ingin mengetahui ajaran-ajarannya..sehingga, suatu hari ia bertanya tentang hari raya kaum muslimin. Saya menjawabnya dan menjelaskan kepadanya tata cara kaum muslimin merayakan hari raya mereka, seperti idul fitri dan idul adha.
Saya berhenti sejenak dari pembicaraanku..kemudian saya katakan kepadanya, "apakah belum datang waktunya?"
Ia menjawab, 'Ya sudah.."saya sangat gembira dengan jawabannya..namun, saya ingin menegaskannya..saya katakan kepadanya, "maksudku waktu anda masuk islam?"
Ia berkata,"ya..saya tahu."
Saya berkata kepadanya, seakan hatiku pada saat itu sangat bahaga dan berbunga-bunga sebagai rasa syukurku kepada Alloh, "sekarang juga?"
Ia berkata, "Ya."
"Bisakah anda memberikan nomor telepon anda?" pintaku kepadanya. Ia memberiku nomor teleponnya, kemudian saya segera menghubunginya.
Saya katakan, "saya telah menjelaskan kepada anda bagaimana cara masuk islam..sekarang tinggal melaksanakannya..saya jelaskan kepadanya makna dua kaimat syahadat dengan bhasa inggris, lalau saya kataka kepdanya, "tirukan ucapanku…Asyahadu..alla..ilaha..illallah.
Saya menuntunnya, sedikit demi sedikit suaranya mulai pecah.. Kemudan saya meneruskan kalimat syahadat selanjutnya, sayab katakan kepadanya, "wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.. Ia menirukannya dengan suara yang semakin pecah..hingga ia menangis dengan suara yang tinggi…
Saya bertanya, "apa yang membuatmu mengais.. Apakah anda sedih?"
"ini bukan air mata kesedihan."katanya.
Saya bertanya kembali, "kalau begitu, apa yang membuat anda menangis.. Demi alloh anda searang berada pada kebaikan yang besar.. Alloh subhanahu wa ta'la benar-benar telah memilih anda untuk memeluk islam dari utaan manusia yang meninggalkan islam..dan dari orang-orang islam yang tidak berpegang teguh dengan agama merka. Jadi, sebab apa anda menangis?"
Ia berkata kepadaku, dan ia masih terus menangis, "saya tidak tahu…"
Saya menjelaskna kepadanya, bahwa alloh telah memuliakannya dengan nikmat ini..dan telah mengampuni segalam kesalahannya sebelum islam..saya memintanya berdoa kepada alloh, semoga Ia mengampuni dosa-dosaku. Setelah itu saya meletakkan gagang telepon dengan menjanjika kepadanya untuk mengajarinya sholat-insyaa alloh- melalui internet, sehingga ia mendapatkan email islami di kotanya yang mengajarinya sholat.
Tak lama kemudian ia muncul lagi di internet untuk berbincang-bincang denganku. Saya bertanya kepadanya, 'mengapa saat itu anda menangis?" Ia menjawab, "saya sendiri tidak tahu mengapa saya menangis..pada ssai itu perasaanku aneh..saya emrasakan kebahagiaan di dalam hatiku..saya merasa aman dan merasa cinta..dan saya merasa bahwa islam itulah yang benar.."
Demi Alloh saya sangat sedih, karena kebanyakan di anatara kita tidak dikarunia perasaan ini..bahkan bisa jdi ada yang telah mengetahui perasaan ini akan tetapi ia tidak mempercayainya padahal perasaan tersebut benar.. Alloh subhanahu wa ta'ala telah menjadikan alquran sebagai obat segala penyakit hati..dan menjadikan islam sebagai jalan keluar untuk setiap permasalahn manusi..betapa indhanya perasaan yang benar ini, ketika terpancar dalam dada orang-orang yang baru masuk islam..
Kai memohon kepada alloh agar mengampuninya dan emmaafkannya, serta menolongnya dalam menempuh islam..dan jangan lupa akan doa baik kalian untuknya…
Ditulis ulang dari buku "akhirnya mereka memilih islam" karya khalid Abu shalih
Ayo baca Lagi...